Bameti dan Balobe : Tradisi Pemanfaatan Sumberdaya Laut yang Berkelanjutan

 

Balobe

Waktu menunjukan 02.00 WIT,  ketika Ledrik Sawy (42 tahun) memompa lampu petromak di atas kole-kole (sejenis perahu tradisional Papua yang terbuat dari satu buah kayu utuh), dan secepat kilat Jonathan Wega (38 tahun) mengayuh pengayuh, untuk mengarahkan haluan menuju pulau tiga di depan kampung Wamesa di Kaimana, Papua Barat.

Dini hari ketika air laut surut, beberapa masyarakat turun ke laut balobe. Balobe adalah istilah yang digunakan masyarakat pesisir Papua untuk kegiatan mencari hasil laut dengan menggunakan alat penikam yang disebut dengan kalawai. Kalawai  merupakan sebuah tombak yang digunakan untuk menikam buruan atau mangsa yang terbuat dari kayu dengan ujungnya terdapat besi tajam bermata tiga. Aktivitas balobe dilakukan pada malam hari, terutama ketika bulan gelap. Biasanya, masyarakat balobe ikan, teripang, lobster, dan terkadang gurita. “Ketika bulan gelap, hewan laut terutama ikan tidak banyak melakukan perpindahan secara cepat” tutur Ledrik Sawy. Di saat itulah kesempatan untuk menikam ikan dengan bantuan penerangan lampu petromak.

Balobe sudah dilakukan sejak dahulu sebelum alat tangkap ikan berkembang. Sebenarnya, Balobe merupakan penangkapan yang ramah lingkungan, karena tidak merusak karang, ataupun menangkap berlebihan (over eksploitasi). “Balobe hanya untuk makan sehari-hari saja” ujar Jonathan Wega. Namun, jika terdapat kelebihan hasil tangkapan maka akan dijual untuk menambah perekonomian keluarga. Ditambahkannya, masyarakat kampung Wamesa hanya menikam ikan pada awalnya, akan tetapi dengan adanya permintaan pasar untuk hasil perikanan bernilai ekonomi tinggi seperti teripang dan lobster, maka masyarakat turut serta menambahkan hewan-hewan tersebut dalam daftar buruannya.

 

Bameti

Masyarakat Papua pesisir memiliki tradisi turun ke pantai untuk Bameti. Bameti adalah kegiatan memungut kerang-kerangan (gleaning shellfish)  dan udang saat air laut surut “meti” dan pada saat bulan gelap. Bameti merupakan tradisi kuno perikanan tangkap yang hanya menggunakan tangkapan tangan (hand capture) yang masih dipraktekkan hingga waktu sekarang ini. Tradisi yang hadir dalam beradaptasi dengan karakteristik wilayah Papua pesisir yang memiliki kontur batimetri yang datar menjorok ke laut, awalnya  dilakukan ketika masyarakat belum mengenal alat tangkap ikan.

Bameti masih menjadi andalan masyarakat pesisir Papua, seperti yang dilakukan masyarakat Kaimana. Tradisi ini tidak membutuhkan keahlian khusus, serta peralatan penangkapan. Hanya butuh pengeruk atau benda pencungkil untuk hasil tangkapan kerang-kerangan, serta keret dan helai lidi pohon kelapa untuk hasil tangkapan udang dan lobster. Caranya cukup mudah, pasang karet pada ujung sapu lidi, dengan teknik menarik dan menembak diarahkan kepada hewan buruan, yaitu udang dan lobster. Biasanya Bameti hanya dilakukan masyarakat Papua untuk memenuhi kehidupan sehari-hari, atau dalam artian bukan mata pencaharian utama seperti nelayan yang keseluruhan hidupnya tergantung pada hasil laut. Bameti lebih pada aktivitas bersama keluarga di waktu luang, serta waktu berkumpul masyarakat kampung di lokasi yang sama. Terkadang, Bameti dilakukan masyarakat Papua untuk bersantai bersama keluarga besar dalam Marga yang sama, dimana hasil tangkapan akan dimasak, serta dikonsumsi di pinggir pantai.

Bameti 1

Alat Tangkap Kalawai

 

Kearifan Lokal dalam Pemanfaatan Sumberdaya Ikan

Kesadaran masyarakat untuk hidup selaras dengan alam sebenarnya sudah biasa dipraktekkan dari leluhur mereka. Perikanan non komersial atau perikanan subsisten merupakan wujud pengaturan dan perlindungan nyata prilaku hidup mereka. Bameti dan Balobe adalah tradisi yang mencerminkan prilaku ramah lingkungan sebagai bentuk budaya masyarakat pesisir Papua. Tidak banyak hasil tangkapan dari kedua metode ini, karena hanya dipakai untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga masyarakat adat suku-suku di Kaimana.

Bameti dan Balobe adalah prilaku konservasionis  produk tempo dahulu, yang rmerupakan perwujudan kearifan lokal. Potret pengetahuan budaya (cultural knowledge) dalam kehidupan sehari-hari massyarakat pesisir Papua dalam pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya alam ini, nyatanya berdampak sangat signifikan terhadap ketersediaan pangan. Cultural knowledge dipergunakan dalam memahami lingkungan, serta mendorong terbentuknya prilaku budaya yang selaras, seimbang, bersinergi dengan alam.

Dalam Bameti dan Balobe, berlaku aturan tidak tertulis berupa ambil “manfaatkan” seperlunya dan secukupnya saja. Tindakan ini memastikan ketersediaan sumberdaya berkelanjutan bagi generasi penerus. Praktek Bameti dan Balobe merupakan bukti bagaimana masyarakat lokal memanfaatkan sumberdaya mereka dengan peralatan sederhana bahkan tradisional. Sehingga dapat dikatakan contoh pemanfaatan secara arif dan bijaksana yang tercermin dalam budaya kearifan lokal dalam sumberdaya ikan di Kaimana.

Foto 2

Teripang, Hasil Tangkapan Balobe dan Bameti

11539074_10200578912790765_8685446916955644172_o

Kerang-kerangan, hasil dari Bameti

 

Pariwisata berbasiskan Kearifan Lokal Masyarakat Pesisir

Sektor pariwisata masih dalam  proses perkembangan di Kabupaten pemekaran tahun 2003 ini. Hal ini dapat dilihat dari pembenahan yang menunjang kenyaman wisatawan, seperti hotel, dan transportasi. Kaimana yang terletak di Selatan Pulau Papua, yang berhadapan langsung dengan Laut Aru ini, belum begitu banyak dikunjungi wisatawan. Tentu saja, transportasi yang cukup mahal menjadi salah satu alasannya. Untuk menuju Kaimana, penerbangan menggunakan pesawat ATR milik maskapai Wings merupakan satu-satunya yang mendarat untuk melayani jalur lintas Papua dan Maluku. Sisanya, hanya terdapat kapal Pelni yang berlabuh setiap dua minggu sekali.

Dalam kurun waktu lima tahun, sebahagian besar wisatawan yang berkunjung berasal dari luar negeri. Tujuan mereka lebih menfokuskan diri pada wisata menyelam di Teluk Triton, Selat Iris, dan Selat Bicari. Maklum saja, ketiga lokasi tersebut, terkenal dengan keindahan alam bawah airnya yang menakjubkan sehingga para peneliti kelautan dunia menjulukinnya sebagai “Kingdom of Fishes”.

Wajah pariwisata Kaimana perlahan-lahan berubah dalam kurun waktu dua tahun terakhir. Awalnya menggantungkan diri dari sektor keindahan alam bawah air, perlahan bangkit menunjukan jati diri masyarakat adat melalui budaya, salah satunya adalah atraksi kearifan lokal. Wisatawan asing yang tertarik akan budaya masyarakat pesisir Papua, berkeinginan masuk dan mempelajari bagaimana masyarakat lokal memanfaatkan sumberdaya alamnya. Dalam perjalanan ke Teluk Triton, saya bertemu dengan Mark (45 tahun) wisatawan yang berasal dari Inggris. Menurut Mark, aktivitas masyarakat pesisir Papua sangat menarik. Cara masyarakat lokal menghormatin dan menghargai alam itu sangat luar biasa. Mark yang berprofesi sebagai Konsultant Energi ini menambahkan, begitu tertarik untuk membaur dengan mama-mama Papua Bameti di sepanjang bibir pantai, yang kemudian mengolah hasil untuk dimakan bersama. Merasakan atmosfir lokal itu sesuatu yang beliau tidak bayangkan sebelumnya. “Ini merupakan tradisi masa lampau yang masih dipertahankan” ujar beliau menutup perbincangan kami sore ini.

Lain lagi dengan Jeny (30 tahun), wisatawan yang berasal dari Amerika tersebut begitu antusias ketika diajak untuk Balobe. “Saya sangat penasaran untuk melihat masyarakat lokal menangkap ikan di malam hari”, kata wanita yang berasal dari  Florida ini. Saya bertemu Jeny di pasar tradisional Kaimana, ketika ia berbincang dengan warga Kampung Wamesa. Kemudian, perbincangan kami berlanjut mengenai budaya masyarakat pesisir Kaimana dalam memanfaatkan sumberdaya alam, yang diakhiri ajakan dari Ledrik Sawy untuk berkunjung, serta ikut serta dengan beliau Balobe.

Menurut Jeny, turut serta Balobe bersama masyarakat lokal menjadi destinasi wisata unik. Belajar bagaimana masyarakat memperlakukan laut dengan tetap memperhatikan keberlanjutannya, sangat sarat dengan nilai-nilai konservasi yang banyak digaungkan konservasionis saat sekarang ini. Tidak semua orang dapat merasakan dan melihat bagaimana masyarakat lokal memperlakukan alam dengan bijaksana. Dengan adanya keterlibatan wisatawan dalam budaya kearifan lokal, tentu memberikan pandangan baru, bahkan ide-ide segar buat pengunjungnya dalam menghargai alam. Ini bukan tentang bagaimana cara pandang luar untuk melihat lebih dalam budaya masyarakat pesisir, namun lebih kepada bagaimana kita menyadari kita membutuhkan alam untuk hidup dan berkembang. Menutup perjalanan saya di awal tahun 2016 di Selatan Pulau Papua, saya menyadari bahwa “Manusia menjaga, alampun memberi”.

Advertisements

Venu Island, home of the “Ambassador” of Kaimana’s Seas

Seekor induk Penyu Lekang menutup sarang setelah mengeluarkan hampir130 butir telur di Pulau Venu copy

Seekor induk Penyu Lekang menutup sarang setelah mengeluarkan hampir130 butir telur di Pulau Venu

Nesting beach protection

The waves hit the shore, accompanied by strong winds sweeping the small white sand island, only about ​​three football fields in size, southwest of Kaimana, Triton Bay’s gateway city. The village community has named this place Venu Island. Venu means “eggs” in the local Koiway language, and the name represents the eggs laid by hundreds of turtles that nest along the island’s sandy beach. To reach Venu from Kaimana requires a two to three hour journey in a speedboat. Shaped like a bracelet, with a saltwater pool in the middle, Venu is home to many exotic bird species, but the main attraction for conservationists and tourists is turtles.

Venu Island is relatively flat, only about 7 meters above sea level at its highest point, so its entire perimeter and even the inner island are ideal locations for turtles to nest and lay eggs. Three main species of sea turtles nest on Venu: green turtles (Chelonia mydas), hawksbills (Eretmochelys imbricate) and olive or pacific ridleys (Lepidochelys olivacea).

Conservation International (CI) in collaboration with the Center KSDA West Papua, through the Region IV Section KSDA Kaimana, and local indigenous communities conduct monitoring activities on Venu Island. CI initiated the formation of patrol teams to protect against threats, both natural (abrasion, predators) and non-natural (human). Patrol teams will take action against the violators who perform acts that threaten the survival of sea turtles. Data collection activities, team building supervision along with turtle nesting area patrols began in February 2011.

Monitoring and documentation includes determination of which species are nesting, the time (date and hour) of nest building, the predominant location of nests, the size of the nesting turtles, and frequency and the number of eggs produced. Monitoring is preformed every evening at 19.00 and lasts until 23.00.

 

Tete Irisa, Keeping Turtles from Extinction

As usual, every night Irisa Sawoka (60 years old) patrols the island to detect traces of turtles that have climbed to the beach to lay their eggs. Assisted by Yohan (40 years old), CI’s staff monitors the beaches trying to use as little artificial light as possible in order not to disturb the nesting turtles. Tete Irisa pioneered nest protection on Venu Island. Despite the fact that he had experience with protecting turtles, his enthusiasm for the project was not dampened. “Eran Jelepi (green turtles) come up most frequently and lay eggs in any season,” he said while digging a hole to move the turtle eggs to a secure location in front of the checkpoint. Other species are seen in October, a prime nest-building month.

At night, after the turtles are identified, the nests are numbered. The goal is to determine the number of turtles that nest and lay eggs on Venu’s beaches. In the morning, the men, armed with a large bucket, transfer eggs from the nests to a protected area. According to Tete Irisa, removing the eggs prevents predators from opening the nests and increases the likelihood of the hatchlings’ survival. Care is taken to move the eggs swiftly in order not to harm the embryos.

Turtle eggs will hatch and the baby turtles will return to the sea in about 30 to 40 days. “Watching the eggs hatch is a unique experience,” said the Kaimana native. Hatchlings know instinctively not to go down to the beach when it is still light. They often peek from the nest but wait for nightfall to scamper to the ocean. We release our hatchlings around 19:00 to avoid the brunt of predators on land and in the ocean. Just imagine, an average nest produces 180 to 200 eggs, but perhaps only two survive to return to Venu and lay their own eggs! Another good reason for protecting this island and the turtles that come here.”

 

Tukik memulai pengembaraannya di lautan

Tukik, memulai pengembaraannya di lautan

 

Turtles, Their history and Future

Because of the lack of protected turtle nesting beaches, many nesting areas in Indonesia have been exploited to the point where no turtles return to lay eggs. Looting eggs from nests and hunting turtles for their meat has decimated both Indonesia’s and the world’s sea turtle population. According Tete Irisa, the main looters around Venu did not come from Kaimana or its surroundings, but arrived from distant islands where the turtles already had been wiped out.

Around Kaimana, the numbers of turtles nesting on Venu and other islands nearby begin to shrink. Protection has not been easy. Limited means and knowledge about conservation methods are major obstacles. Initiatives between CI and BKSDA to protect turtle nesting beaches now have the support of the local communities and landowners. Based on CI’s data from 2011 through 2013, turtle nestings have increased to about 2,477 individuals. This positive result is due to the cooperation between all stakeholders who are striving to save Kaimana’s ambassador of the seas.

http://birdsheadseascape.com/conservation-science/venu-island-home-of-the-ambassador-of-kaimanas-seas-by-nita-johana/

Pulau Venu, Rumah si “Duta Laut” dari Kaimana, Papua Barat

Perlindungan Pantai peneluran Penyu

Ombak menerjang bibir pantai, disertai angin kencang menyapu pasir putih pulau dengan luas tiga kali lapangan sepakbola di ujung barat Kaimana ini. Pulau Venu, demikian masyarakat kampung menyebutnya. Venu dalam bahasa Suku Koiway bermakna pulau telur. Penamaan ini sesuai dengan hadirnya ratusan penyu yang bertelur di sepanjang pasir putihnya.

Di pulau Venu  bersarang tiga jenis penyu yaitu, penyu hijau (Chelonia mydas),penyu sisik (Eretmochelys imbricate) dan Lekang (Lepidochelys olivacea). Topografi yang relative datar dengan ketinggian 0 sampai 7 meter di atas permukaan laut, serta bagian tepi luar pantainya dikelilingi pasir merupakan lokasi yang ideal untuk penyu naik dan bertelur.

Conservation International (CI) bekerjasama dengan Balai Besar KSDA Papua Barat, melalui Seksi KSDA Wilayah IV Kaimana, dan masyarakat Adat setempat melakukan kegiatan pemantauan di Pulau Venu. Kegiatan ini berupa pendataan dan pembentukan tim Patroli pengawasan daerah peneluran penyu, yang dimulai sejak Februari 2011.

Pendataan dilakukan bertujuan untuk mengetahui waktu (tanggal dan jam) penyu naik bertelur, jenis penyu, lokasi dominan tempat bertelur, ukuran induk penyu, frekuensi peneluran dan jumlah telur yang dihasilkan dari tiap induk penyu .  Pelaksanaan pemantauan  dilakukan setiap malam pada jam 19.00  sampai 23.00 WIT. Apabila menemukan penyu naik dan bertelur, maka dilakukan identifikasi, pengukuran, serta pemberian tanda pada setiap lokasi tempat bertelur.

Tim Patroli bertugas melakukan perlindungan terhadap ancaman, baik secara alami (abrasi,predator) maupun non alami (manusia). Tim Patroli ini akan menindak bagi pelanggar yang melakukan perbuatan yang bersifat mengancam keberlangsungan hidup penyu.

Untuk mencapai Pulau Venu dari ibukota kabupaten, dibutuhkan waktu dua sampai tiga jam perjalanan laut dengan menumpang speedboat bermesin ganda 40 PK. Pulau ini terbangun dari tumpukan pasir putih berkerikil dengan panjang kurang lebih meter, lebar 300 meter dan panjang 700 meter. Bentuknya seperti gelang, dimana bagian tengahnya terdapat kolam air asin yang mengalami pasang surut, mengikuti air laut. Secara geografis Pulau yang masih dihuni burung Maleo ini terletak di 1330 26’ 32” BT sampai 1330 34’ 19’’ BT dan 40 13’ 57’’ LS sampai 40 22’ 51’’ LS, artinya tepat di selatan kepala burung Provinsi Papua Barat yang berhadapan langsung dengan Laut Aru.

 

 

 

Tete Irisa, menjaga Jalepi, Eran dan Bambawar dari kepunahan

Seperti biasanya, setiap malam Irisa Sawoka (60 tahun)  berpatroli mengelilingi pulau untuk mendeteksi jejak penyu yang naik ke pantai untuk  bertelur. Dibantu Yohan (40 tahun), menyusuri pantai tampa penerangan merupakan rutinitas kedua staff CI ini.  Tete Irisa biasanya laki-laki paruh baya ini disapa, penjaga perintis perlindungan peneluran di Pulau Venu.  Tidak memiliki pengetahuan mengenai perlindungan penyu, tidak menyurutkan tekad beliau menjalankan tugasnya. “Jelepi dan Eran yang paling banyak naik dan bertelur tampa mengenal musim,” ujar beliau sambil menggali lubang untuk memindahkan telur penyu ke lokasi perlindungan di depan pos penjagaan. Sedangkan bambawar, lebih banyak naik di musim pancaroba atau sekitar bulan oktober, selain musim itu hanya terlihat satu atau dua ekor seja. Dalam bahasa Koiway, jelepi berarti penyu hijau, eran penyu sisik dan bambawar adalah lekang. Ketiga jenis ini sudah lama dikenal oleh masyarakat sekitar Pulau Venu.

Dalam satu malam, penyu naik dan bertelur sekitar 10 sampai 15 ekor. Setelah dilakukan identifikasi,  dilanjutkan dengan  pemberian nomor sarang. Tujuannya untuk mengetahui jumlah penyu yang naik dan bertelur. Pagi hari, aktivitas pemindahan telur dari sarang ke lokasi perlindungan dilakukan tete Irisa dengan berbekal sebuah ember besar. Menurut beliau, pemindahan ini untuk mencegah predator memangsa telur dan memperbesar kemungkinan tukik menentas,  serta membantu pelepasan tukik ke laut. Pemindahan telur ini dilakukan dibawah  1X24  jam, hal ini mengantisipasi  putih telur tidak  melebur sehingga menekan angka  kegagalan pembentuan embrio tukik. Lokasi baru digali sesuai dengan sarang aslinya dengan kedalaman 60 cm. Telur penyu akan menetas dan mencari jalan keluar setelah 30 sampai 40 hari. “Ada yang unik ketika tukik menetas, “ kata bapak empat anak kelahiran asli Kaimana ini. Tukik dapat mengetahui secara naluri tidak akan turun ke pantai ketika hari masih terang, tukik-tukik ini hanya mengintip saja di tumpukan pasir, lalu membenamkan diri kembali kedalam sarang, dan akan keluar memulai pengembaraannya di lautan ketika matahari sudah turun atau malam tiba.

Di Pulau Venu, pelepasan tukik dilakukan sekitar pukul 19.00 WIT. Hal ini untuk menghindari terjangan predator di darat maupun dilautan. “ Hanya 2 tukik saja yang dapat besar dan kembali ke pulau untuk bertelur dari 180 sampai 200 telur yang kita lepaskan,” ujar tete Irisa parau. Bayangkan saja, dari rata-rata satu sarang yang menghasilkan 180 sampai 200 telur, hanya 2 saja yang selamat dari evolusi alami. Persaingan sudah dimulai sejak tukik-tukik ini ditelurkan, memulai langkah pertama di lautan sampai diburu untuk diambil karapasnya.

 

 Penyu, sejarahnya, hari ini dan masa depan

Ketika belum adanya perlindungan pantai peneluran penyu, banyak aktivitas exploitasi terhadap hewan laut yang terkenal sebagai pengembara samudera ini. Penangkapan besar-besaran terjadi sekitar tahun 1960-an sampai 2010 . Ribuan ekor penyu hijau dan penyu sisik berpindah dari pantai berpasir ke perahu nelayan. Bahkan, telur penyu tidak memiliki kesempatan untuk menetas. Penjarahan telur juga dilakukan untuk dikonsumsi. Menurut tete Irisa, nelayan luar daerah yang datang mengambil penyu. Mereka  mengambil karapasnya saja. Sedangkan dagingnya ditinggalkan dan hanya sebahagian kecil saja dikonsumsi. Penjarah bukan dari masyarakat di sekitar pulau, mereka datang dari Sulawesi dan Tual.

Tahun berganti, ribuan ekor penyu yang biasanya mendarat mulai menyusut jumlahnya. Sebagian masyarakat menyadari hal tersebut. Namun untuk melakukan perlindungan sangatlah tidak mudah. Keterbatasan sarana dan pengetahuan menjadi hambatan utama. Langkah yang dibangun atas inisiatif CI yang menggandeng BKSDA, untuk melindungi pantai peneluran penyu mendapat dukungan dari masyarakat dan pemilik petuanan. Berdasarkan data CI tahun 2011 sampai 2013, penyu yang naik dan bertelur berjumlah 2.477 ekor. Tentu saja, ini merupakan hasil yang positif dari kerja sama berbagai pihak untuk menyelamatkan si duta laut dari kepunahan.

 

 

 

 

 

Africa from Java

In the Savanah

In the Savannah

“Pernahkah menonton film Madagascar?”. Aksi kocak empat sekawan dari kebun binatang New York yang terdampar di hutan liar Afrika ini seakan-akan menyambut atmosfir savana di timur Pulau Jawa, Taman Nasional Baluran.

Aroma rumput kering tercium keras menusuk hidung, tatkala menempuh 7 km perjalanan awal ke Taman Nasional yang terkenal dengan rusa (Cervus timorensis russa) dan banteng (Bos javanicus). Bumbu petualangan pun bertambah semarak dengan informasi hadirnya penghuni baru di tempat yang terkenal dengan julukan Afrika dari Jawa, yaitu dua ekor anak macan akar ( Felis termmincki) yang baru saja dilahirkan oleh sang induk, dengan singgasananya tidak jauh dari jalan lintas wisatawan. Itu belum seberapa. Oktober yang ditandai dengan musim kawin Burung Merak (Pavo muticus) membawa petualangan ke tanah kering ini kian menggoda.

Ada banyak lokasi yang bisa menjadi pilihan wisatawan di Taman Nasional Baluran, seperti mendaki gunung Baluran, menjelajahi rapatnya hutan, mengejar rusa dan banteng liar di padang savana, menikmati senja di pantai tersembunyi dengan ditemani monyet-monyet kecil untuk sekedar duduk sambil membaca, ataupun mengamati tingkah laku burung dari ketinggian di menara pandang. Duduk-duduk di homestay yang tersedia di tengah-tengah Taman Nasional pun bisa menjadi pilihan jika ingin bersantai. Hanya saja, jika  ingin merasakan aroma petualangan khas Afrika, silakan menjejal padang rumput tandus savana di siang hari. Cukup panas pastinya, tetapi akan terbayarkan dengan aroma khas padang rumput liar. Dalam petualangan kali ini, padang savana menjadi tujuannya.

In the Savana

Savana-padang rumput kering dengan warna kuning khasnya-merupakan tujuan utama wisata di Taman Nasional Baluran. Layaknya savana di tanah kelahiran Nelson Mandela di Afrika, Baluran memiliki karakteristik khas savana, yaitu pohon-pohon berbatang kokoh-dengan dedaunan ditopang ranting laksana payung berkanopi atau yang dikenal dengan nama pohon Bakol-yang tersebar tidak merata di beberapa titik padang tandus dengan suhu hampir mendekati 33oC ini. Sang gunung Baluran pun tak kalah gagahnya menaungi padang rumput tandus ditemani awan putih yang membentuk lukisan abstrak layaknya lukisan krayon di buku gambar. Di savana ini biasanya ditemukan Rusa dan Banteng berkeliaran bebas merumput. Mereka biasa ditemukan di kubangan-kubangan yang airnya berasal dari tandon-tandon air yang memang sengaja disediakan.

Dengan serentak, kepala-kepala itu mengadah ke atas sambil ujung matanya melirik ke kanan dan ke kiri. Segerombolan penikmat rumput kering ini waspada dengan aroma tidak dikenal yang tiba-tiba saja hadir tanpa permisi bermain di halaman rumah mereka. Sang jantan-yang bertanduk mulai berlari mengitari daerah kekuasaannya-dengan awas menatap ke arah aroma asing di sekitarnya. Kakinya berdiri kokoh, menahan tubuh besarnya dengan dada dibusungkan ke depan. Keadaan hening seketika, yang terdengar hanya alunan rumput kering.

Oktober juga ditandai dengan berkumpulnya segerombolan rusa (Cervus timorensis russa) di padang rumput savana. Air menjadi alasannya. Di Oktober, persediaan air di dalam hutan berkurang, sehingga terjadi migrasi secara besar-besaran untuk mencari sumber air ke padang savana. Tentu saja, ini menjadi pemandangan menakjubkan. Belum habis rasa kagum akan tingkah hewan bertanduk ini, beberapa rusa jantan dewasa unjuk gigi mencari perhatian rusa betina. Berlari-lari mengitari sekawanan betina dewasa, memamerkan tanduk kokohnya, berjalan gagah laksana prajurit baris berbaris sampai memahkotai tanduknya dengan rumput segar.

Secara tidak langsung, padang rumput savana ini menjadi buku mini berisi ilmu pengetahuan akan tingkah laku hewan bertanduk dari genus Cervus ini. Hanya saja, maskot utama Baluran-banteng (Bos javanicus)-tidak terlihat. Menurut petugas, jumlah banteng di Taman Nasional Baluran mengalami penyusutan karena  perburuan liar terhadap tanduknya. Bahkan, hasil survei pada 2007 menyebutkan bahwa jumlah populasi binatang yang menjadi ciri khas tempat ini tinggal 30 ekor saja. “Banteng adalah binatang pemalu, jarang berkelompok lebih dari tiga ekor,” ujar petugas.

Kekeringan dan menyusutnya air juga menjadi penyebab menurunnya populasi hewan berkaki empat yang memiliki ciri khusus di kakinya-warna putih yang seperti kaus kaki. Untuk menyelamatkan populasi Banteng di Taman Nasional Baluran, petugas membangun tempat khusus di area Bakol, tidak jauh dari Pasanggrahan berupa lahan yang dipagari kawat tipis, untuk tempat pemulihan populasi Banteng.

 

Tarian musim kawin

Pagi ini, tatapan mata itu mengikuti gerak gerik laju kendaraan. Dia tidak sendiri. Ada beberapa melakukan hal yang sama dengan terus berdiri menjaga jarak dan kewaspadaannya. Binatang pertama yang mengajak berkenalan ini tiba-tiba saja pamer keindahan lekuk tubuhnya dan secepat kilat menghilang di rapatnya rerimbunan hutan. Pertemuan kedua mengobati rasa penasaran pagi tadi. Kali ini, lebih dari 12 ekor dengan santainya lalu lalang tanpa merasa terganggung dengan kehadiran manusia di sekitarnya. Dialah sang primadona di Oktober, burung merak berlenggak lenggok di catwalk rumput kering selasar Bakol yang sedang berburu pasangan di musim kawin.

Tumpukan warna kontras bulunya memikat siapa saja yang sekedar singgah, atau benar-benar mengagumi tingkah laku hewan Aves ini. Belum cukup puas membuai mata, si merak jantan pun beraksi, menari ala tarian khas musim kawin. Pagi ini, bukan hanya si betina saja yang terbuai akan keindahan tarian sang jantan, tapi semua mata yang berada di selasar ini ikut terpesona. Dibuka dengan langkah kecil, kaki mungil sang jantan berjalan perlahan sambil terus mengitari si betina buruannya dengan tatapan angkuh. Kepala ditegakkan lurus, perlahan-lahan bulu ekornya terkembang bak layar di kapal Pinisi, terbuka selebar-lebarnya. Hijau,biru, kuning, orange bercampur hitam pekat, memikat mata untuk terus tak berkedip memandangnya seolah-olah terhipnotis. Sang jantan tidak sendiri. Beberapa rekannya pun melakukan hal yang sama. Bisa dibayangkan sensasi pertunjukan pagi ini. Penuh dengan warna dan seni alam tersaji lengkap. Siapa yang tahan dengan godaan ini, tentu saja betina muda buruannya menjadi tak berdaya.

Burung merak (Pavo muticus)-keturunan unggas yang ditemukan di Taman Nasional Baluran-  hidup liar di dalam hutan dan juga bisa ditemukan di dalam kandang sekitar Bakol. Oktober merupakan waktu terbaik untuk mengamati hewan ini, karena bulan ini merupakan musim mencari pasangan atau kawin.

Raja kecil dari Baluran

“Beruntung sekali, berkunjung di bulan ini,” ujar Joko, salah satu Ranger di Taman Nasional Baluran. Kita kedatangan penghuni baru, dua ekor macan akar (Felis termmincki). “Lokasinyanya tidak jauh, jalan lurus ke arah savana, di jembatan pertama sebelah kanan tempat tinggalnya,” tambahnya. Pada siang hari, kedua anak macan akar ikut induknya mencari makan ke dalam hutan. Saat senja mulai turun, mereka akan bercengkrama di sana.

Langit Baluran berganti kuning keemasan, ketika laju kendaraan roda empat berhenti persis di jembatan. Hanya kaca jendela yang diturunkan, dengan lampu penerangan seadanya terus meraba sisi sungai kecil, tempat yang terkenal dengan rumah macan akar. Tidak ada satupun kaki yang berani keluar atau sekedar mendongkakkan kepala dari jendela. Nyali pun seakan-akan pergi menjauh dan tak kunjung kembali. Maklum saja, induk macan akar sedang semangat-semangatnya melindungi sang bayi yang masih seumur jagung itu. Bisa dibayangkan reaksi sang induk, ketika orang asing hadir di sana.

Hening, langit kuning keemasan berganti kelam, cuaca gersang berubah drastis dengan hembusan angin dingin malam menusuk tulang. Belum ada tanda-tanda kehadiran sang induk beranak dua ini. Meskipun mesin mobil sudah dimatikan, serta lampu penerangan dipadamkan. Tidak ada tanda-tanda kilauan mata tajamnya di gelap malam.

Menunggu dalam kecemasan dan rasa penasaran. Pada akhirnya menyerah, bisa saja si induk sudah mencium aroma ancaman, dengan secepat kilat membawa lari kedua anak tersayangnya. Bersembunyi di kaki pohon besar di rapatnya hutan Baluran. Rencana mengabadikan sang macan beserta kedua anak mungilnya pupus sudah. Perjalanan dilanjutkan kembali. Menikmati suasana malam di Taman Nasional di timur Pulau Jawa ini.

 

Baluran Mountain

Baluran Mountain

Taman Nasional Baluran

Taman Nasional Baluran-terletak di Kabupaten Situbondo dan Banyuwangi, Jawa Timur-diresmikan pada tahun 1980. Taman Nasional ini menempati luas area 22.500 hektar berupa hutan pesisir dan padang rumput serta diapit oleh tiga gunung, Baluran, Merapi, dan Ijen.

Perjalanan menuju Taman Nasional Baluran memakan waktu kurang lebih enam jam dari Surabaya. Cukup membayar tiket masuk sebesar Rp 2.500, pengunjung sudah bisa berinteraksi di dalam Taman Nasional. Fasilitas yang disediakan juga sangat lengkap, yaitu pusat informasi, jalan aspal, camping ground, menara pandang, pesanggrahan, serta penyewaan alat norkeling dan kano. Jika ingin bermalam, di Taman Nasional Baluran ini tersedia penginapan di dua lokasi yang berbeda, yaitu di Pesanggrahan Bakol dan Pantai Bama. Untuk menginap di sana, satu orang dikenakan Rp 50.000 per malam.

Tempat wisata utama yang bisa dikunjungi wisatawan adalah Bekol, Padang Savana, Pantai Bama, Pantai Balanan, dan Pantai Bilik. Jarak dari pintu masuk menuju Bekol sekitar 9 km dan ke pantai Bama 12 km. Sementara, padang savana berlokasi tidak jauh dari Bekol.

Untuk merasakan sensasi berpetualang di padang savana gersang nan liar ini, Anda tidak perlu terbang jauh ke Afrika. Anda cukup berkunjung ke Taman Nasional di ujung timur Pulau Jawa ini dan menikmati aroma khas padang tandus. Tidak ada salahnya mencoba bukan?

 

Tulisan ini bisa dibuka juga di Link

Sumatra Orangutans are Critically Endangered, Bukitlawang, North Sumatra, Indonesia

There are less than 7.000 Sumatran orangutans left in the wild, and the population is declining every year. The main reasons for their decline like the expansion of oil-palm and rubber plantations into forest areas, unsustainable/illegal logging, habitat fragmentation leading to isolated populations and forest fires and hunting and poaching for the illegal pet trade. Orangutans the largest tree-dwelling(arboreal) mammal in the world and share 96,4 % of our genes. Orangutans spent most of their lives in the forest canopy, each night building a new nest in which to sleep.

Orangutans breed more slowly than any other mammal. On average, a mother will have a baby only once every  6-8 years – the time it takes the young to learn all the necessary skills for survival in the forest. Such a long breeding process makes it very difficult for orangutans to recover from any population declines.

So, save our Forest to save our Orangutan…       Orangutans are part of nature

This slideshow requires JavaScript.