Pulau Venu, Rumah si “Duta Laut” dari Kaimana, Papua Barat

Perlindungan Pantai peneluran Penyu

Ombak menerjang bibir pantai, disertai angin kencang menyapu pasir putih pulau dengan luas tiga kali lapangan sepakbola di ujung barat Kaimana ini. Pulau Venu, demikian masyarakat kampung menyebutnya. Venu dalam bahasa Suku Koiway bermakna pulau telur. Penamaan ini sesuai dengan hadirnya ratusan penyu yang bertelur di sepanjang pasir putihnya.

Di pulau Venu  bersarang tiga jenis penyu yaitu, penyu hijau (Chelonia mydas),penyu sisik (Eretmochelys imbricate) dan Lekang (Lepidochelys olivacea). Topografi yang relative datar dengan ketinggian 0 sampai 7 meter di atas permukaan laut, serta bagian tepi luar pantainya dikelilingi pasir merupakan lokasi yang ideal untuk penyu naik dan bertelur.

Conservation International (CI) bekerjasama dengan Balai Besar KSDA Papua Barat, melalui Seksi KSDA Wilayah IV Kaimana, dan masyarakat Adat setempat melakukan kegiatan pemantauan di Pulau Venu. Kegiatan ini berupa pendataan dan pembentukan tim Patroli pengawasan daerah peneluran penyu, yang dimulai sejak Februari 2011.

Pendataan dilakukan bertujuan untuk mengetahui waktu (tanggal dan jam) penyu naik bertelur, jenis penyu, lokasi dominan tempat bertelur, ukuran induk penyu, frekuensi peneluran dan jumlah telur yang dihasilkan dari tiap induk penyu .  Pelaksanaan pemantauan  dilakukan setiap malam pada jam 19.00  sampai 23.00 WIT. Apabila menemukan penyu naik dan bertelur, maka dilakukan identifikasi, pengukuran, serta pemberian tanda pada setiap lokasi tempat bertelur.

Tim Patroli bertugas melakukan perlindungan terhadap ancaman, baik secara alami (abrasi,predator) maupun non alami (manusia). Tim Patroli ini akan menindak bagi pelanggar yang melakukan perbuatan yang bersifat mengancam keberlangsungan hidup penyu.

Untuk mencapai Pulau Venu dari ibukota kabupaten, dibutuhkan waktu dua sampai tiga jam perjalanan laut dengan menumpang speedboat bermesin ganda 40 PK. Pulau ini terbangun dari tumpukan pasir putih berkerikil dengan panjang kurang lebih meter, lebar 300 meter dan panjang 700 meter. Bentuknya seperti gelang, dimana bagian tengahnya terdapat kolam air asin yang mengalami pasang surut, mengikuti air laut. Secara geografis Pulau yang masih dihuni burung Maleo ini terletak di 1330 26’ 32” BT sampai 1330 34’ 19’’ BT dan 40 13’ 57’’ LS sampai 40 22’ 51’’ LS, artinya tepat di selatan kepala burung Provinsi Papua Barat yang berhadapan langsung dengan Laut Aru.

 

 

 

Tete Irisa, menjaga Jalepi, Eran dan Bambawar dari kepunahan

Seperti biasanya, setiap malam Irisa Sawoka (60 tahun)  berpatroli mengelilingi pulau untuk mendeteksi jejak penyu yang naik ke pantai untuk  bertelur. Dibantu Yohan (40 tahun), menyusuri pantai tampa penerangan merupakan rutinitas kedua staff CI ini.  Tete Irisa biasanya laki-laki paruh baya ini disapa, penjaga perintis perlindungan peneluran di Pulau Venu.  Tidak memiliki pengetahuan mengenai perlindungan penyu, tidak menyurutkan tekad beliau menjalankan tugasnya. “Jelepi dan Eran yang paling banyak naik dan bertelur tampa mengenal musim,” ujar beliau sambil menggali lubang untuk memindahkan telur penyu ke lokasi perlindungan di depan pos penjagaan. Sedangkan bambawar, lebih banyak naik di musim pancaroba atau sekitar bulan oktober, selain musim itu hanya terlihat satu atau dua ekor seja. Dalam bahasa Koiway, jelepi berarti penyu hijau, eran penyu sisik dan bambawar adalah lekang. Ketiga jenis ini sudah lama dikenal oleh masyarakat sekitar Pulau Venu.

Dalam satu malam, penyu naik dan bertelur sekitar 10 sampai 15 ekor. Setelah dilakukan identifikasi,  dilanjutkan dengan  pemberian nomor sarang. Tujuannya untuk mengetahui jumlah penyu yang naik dan bertelur. Pagi hari, aktivitas pemindahan telur dari sarang ke lokasi perlindungan dilakukan tete Irisa dengan berbekal sebuah ember besar. Menurut beliau, pemindahan ini untuk mencegah predator memangsa telur dan memperbesar kemungkinan tukik menentas,  serta membantu pelepasan tukik ke laut. Pemindahan telur ini dilakukan dibawah  1X24  jam, hal ini mengantisipasi  putih telur tidak  melebur sehingga menekan angka  kegagalan pembentuan embrio tukik. Lokasi baru digali sesuai dengan sarang aslinya dengan kedalaman 60 cm. Telur penyu akan menetas dan mencari jalan keluar setelah 30 sampai 40 hari. “Ada yang unik ketika tukik menetas, “ kata bapak empat anak kelahiran asli Kaimana ini. Tukik dapat mengetahui secara naluri tidak akan turun ke pantai ketika hari masih terang, tukik-tukik ini hanya mengintip saja di tumpukan pasir, lalu membenamkan diri kembali kedalam sarang, dan akan keluar memulai pengembaraannya di lautan ketika matahari sudah turun atau malam tiba.

Di Pulau Venu, pelepasan tukik dilakukan sekitar pukul 19.00 WIT. Hal ini untuk menghindari terjangan predator di darat maupun dilautan. “ Hanya 2 tukik saja yang dapat besar dan kembali ke pulau untuk bertelur dari 180 sampai 200 telur yang kita lepaskan,” ujar tete Irisa parau. Bayangkan saja, dari rata-rata satu sarang yang menghasilkan 180 sampai 200 telur, hanya 2 saja yang selamat dari evolusi alami. Persaingan sudah dimulai sejak tukik-tukik ini ditelurkan, memulai langkah pertama di lautan sampai diburu untuk diambil karapasnya.

 

 Penyu, sejarahnya, hari ini dan masa depan

Ketika belum adanya perlindungan pantai peneluran penyu, banyak aktivitas exploitasi terhadap hewan laut yang terkenal sebagai pengembara samudera ini. Penangkapan besar-besaran terjadi sekitar tahun 1960-an sampai 2010 . Ribuan ekor penyu hijau dan penyu sisik berpindah dari pantai berpasir ke perahu nelayan. Bahkan, telur penyu tidak memiliki kesempatan untuk menetas. Penjarahan telur juga dilakukan untuk dikonsumsi. Menurut tete Irisa, nelayan luar daerah yang datang mengambil penyu. Mereka  mengambil karapasnya saja. Sedangkan dagingnya ditinggalkan dan hanya sebahagian kecil saja dikonsumsi. Penjarah bukan dari masyarakat di sekitar pulau, mereka datang dari Sulawesi dan Tual.

Tahun berganti, ribuan ekor penyu yang biasanya mendarat mulai menyusut jumlahnya. Sebagian masyarakat menyadari hal tersebut. Namun untuk melakukan perlindungan sangatlah tidak mudah. Keterbatasan sarana dan pengetahuan menjadi hambatan utama. Langkah yang dibangun atas inisiatif CI yang menggandeng BKSDA, untuk melindungi pantai peneluran penyu mendapat dukungan dari masyarakat dan pemilik petuanan. Berdasarkan data CI tahun 2011 sampai 2013, penyu yang naik dan bertelur berjumlah 2.477 ekor. Tentu saja, ini merupakan hasil yang positif dari kerja sama berbagai pihak untuk menyelamatkan si duta laut dari kepunahan.

 

 

 

 

 

Advertisements

Semang Canoe – Maerasi Tribe

Semang Canoe - a traditional Canoe from Maerasi Tribe -Kaimana in West Papua. In the past, this canoe  is used as a residence (houseboat). All activities carried out in them, such as cooking and sleeping. Canoe is made from a whole tree, which dredged the middle. The roof, use of sago palm thatch.

Semang Canoe – a traditional Canoe from Maerasi Tribe -Kaimana in West Papua. In the past, this canoe is used as a residence (houseboat). All activities carried out in them, such as cooking and sleeping.
Canoe is made from a whole tree, which dredged the middle. The roof, use of sago palm thatch.

Pembuatan Sagu di Kampung Lobo, Teluk Triton, Kaimana, Papua Barat

Udara untuk kehidupan, sagu untuk persaudaraan. Begitu melekatnya makanan tradisional ini di kehidupan masyarakat Papua.  Sebut saja Papeda-makanan berbahan dasar sagu, menjadi simbol budaya Papua Pesisir.

Sagu- terbuat dari endapan sari pohon sagu, yang diproses secara tradisional. Proses pembuatannya pun masih sederhana. Pohon sagu terpilih ditebang, dengan sebelumnya dibersihkan dari duri serta dahannya. Dilanjutan pengambilan serat serta peramasan.

Tumbuhan  pesisir ini terbagi menjadi dua berdasarkan lokasi hidupnya, yaitu sagu di rawa dan sagu di daratan. Sagu merah  dihasilkan oleh pohon yang mendiami daerah rawa, sedangkan sagu putih untuk  yang hidup di daratan. Karakteristik biologisnya juga terbagi atas sagu berduri dan tidak berduri. Namun demikian, tidak ada perbedaan rasa untuk hal ini. Sagu tetap dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat Papua Pesisir.

Mawas Wanoman

Tokok Sagu atau biasa disebut dengan Mawas Wanoman oleh suku Maerasi, dimulai dengan menyiapkan Oere (alat penokok sagu). Oere terbuat dari pohon sagu itu sendiri, yang dibentuk seperti palu. Fungsinya, untuk memukul batang sagu hingga serat-serat halusnya terpisah. Serat itulah yang akan menghasilkan sagu. Menurut Bapak Yustus Wejanggae (39 tahun), waktu mawas wanoman tergantung dari jumlah pekerja. Untuk satu pohon, bisa dikerjakan dalam waktu tiga sampai tujuh hari.  Jika dikerjakan  banyak orang, batang sagu dibelah menjadi dua (antero) namun jika dikerjakan sendiri batang akan dibagi menjadi 3 bagian.

Tokok sagu ini dikerjakan langsung di lokasi penebangan. Pembuatan para-para (tempat duduk) menggunakan bahan yang tersedia di alam. Bunyi Oere bertalu-talu menghasilkan serat-serat halus yang siap diramas.

Mawas Wanoman

Mawas Wanoman

Mawas Fuseman

Ramas sagu atau mawas fuseman-proses pemerasan serat menjadi pati sagu. Di suku Maerasi, Teluk Triton, terdapat beberapa tempat yang biasanya digunakan untuk lokasi pengambilan pohon sagu. Salah satunya di Wawena kampung Lobo. Lokasi ini sangat dekat dengan pantai atau artinya sagu yang dihasilkan akan berwarna merah. Begitu juga dengan peralatan yang digunakan, masih tercium aroma pantainya. Mawas ambir (pelepah sagu) digunakan sebagai wadah mawas fuseman. Dengan ditopang dua bilah kayu diameter 5 cm di belakang, serta diselonjorkan kearah depan mengerucut ke wadah penampungan yang ditopang tiga bilah kayu. Tak lupa, ujungnya ditutup oleh jarring halus sebagai jembatan bulir-bulir pati. Ada juga Kole-kole (sampan yang terbuat dari satu buah pohon utuh) berfungsi sebagai  wadah penampung air perasan serat sagu  yang mengandung pati. Terdapat juga jaring halus, tomang (wadah yang terbuat dari daun sagu), ember besar, gayung serta pelangkapnya yaitu air tawar.

Mawas fuseman dimulai dengan membasahi serat halus sagu sambil diremas-remas menggunakan tangan. Proses ini dilakukan secara berulang-ulang, sampai pati keluar dan tergerus. Aliran pati bermuara dan mengendap di dasar kole-kole membentuk sagu siap digunakan. “ Tidak ada tanda dan waktu khusus memeras sagu, semua berdasarkan pengalaman saja”, ujar Yakomina sambil tersenyum. Beliau juga menambahkan, dalam satu hari bisa terisi dua buah tomang. Sedangkan, satu pohon dapat  menghasilkan delapan sampai duabelas tomang. Satu tomang sagu dihargai Rp 150.000 sampai Rp. 200.000.

Sagu akan bertahan tiga bulan didalam tomang. Untuk pengawetannya cukup dengan merendam pati sagu didalam air tiap satu bulan sekali.

Mawas Fuseman is squeezing activity sago fibers to produce sago starch

Mawas Fuseman is squeezing activity sago fibers to produce sago starch

Sagu

Tumbuhan pesisir ini bernama latin Metroxylon sagu. Sagu merupakan makanan pokok bagi masyarakat di Papua dan Maluku. Tanaman sagu tumbuh secara alami terutama di daerah dataran atau rawa dengan sumber air yang melimpah. Hampir 50 % tanaman sagu dunia terdapat di Indonesia, dengan 90% jumlah tersebut tersebar di Papua dan Maluku.

Di daerah  di Indonesia Timur, masyarakat  mengonsumsi sagu dalam makanan sehari-hari. Misalnya saja, Ambon terkenal dengan sinole atau bubur sagu dari Maluku yang berbahan dasar sama. Keunikan corak budaya kuliner Indonesia memiliki persamaan dengan perbedaan warna.

Di Kaimana, Papua Barat-pembuatan sagu banyak ditemui di kampung-kampung Distrik. Itupun jumlahnya semakin berkurang. Gempuran pembangunan mendesak bibir pantai bersahabat dengan tembok-tembok. Pemukiman penduduk juga ikut merambah habitat pohon sejuta manfaat ini. Kearifan lokal lah, yang  menyelamatkan kelestarian  kuliner daerah yang tertanan di kehidupan budaya Mawas Wanoman ini.

 

 

 

Ancient Wall Painting in MaiMai Village, Kaimana, West Papua

Berbagai corak yang masih belum bisa diartikan pasti, terpajang laksana galleri alam di sepanjang  satu kilometer  di dinding tebing karang Kampung Maimai, Kaimana, Papua Barat. Torehan lukisan  merah menyala, tergurat jelas menandai  Jejak keberadaan suatu peradaban.

Lukisan dinding purba, begitu biasa masyarakat di daerah ini menyebutnya.  Terletak di tebing karang yang sukar dijangkau, tepatnya berada di ketinggian 10 meter diatas permukaan laut, memberi informasi akan usianya yang sangat panjang. Bisa saja, ketika peradaban ini ada, dan mulai menorehkan catatan kehidupan, struktur permukaan bumi tidak seperti yang terlihat hari ini. Tebing karang yang menjadi gallerinya, terangkat naik keatas, sehingga posisi lukisan ini jauh dari permukaan air. Sehingga untuk menikmatinya, harus puas hanya dari speedboat saja.

stone walls rise to the surface as a gallery of ancient painting

stone walls rise to the surface as a gallery of ancient painting

 

 

Lukisan dinding Goa biasanya dimulai pada zaman mezolitik awal. Warna merah pada lukisan purba ini, jika ditelaah ditandai pada Zaman epipaleolitik. Akan tetapi, ada beberapa corak berwarna kuning yang biasanya diukir pada zaman epipaleolitik akhir (awal mezolitik).  Namun, hingga saat ini masih dibutuhkan penelitian mendalam untuk mengetahui zaman pembuatannya.

Di Papua Barat, banyak terdapat lukisan dinding purba dengan corak yang hampir sama. Misalnya di Kabupaten Fak-Fak dan Raja Ampat.  Yang membedakannya, beberapa gambar tidak terdapat ditempat lain. Contohnya corak Burung Garuda, hanya terdapat di Lukisan dinding Purba di Kampung Maimai saja.  Hal ini bisa dihubungan dengan cerita orang tua dahulu, bahwa di Gunung Lobo, tidak jauh dari Maimai, terdapat Legenda Lambang Negara Indonesia itu, hidup dan mendiami gunung tersebut. Karena, setiap gambar yang terukir menjelaskan tentang kondisi daerah yang ditempati.

Di Kampung Maimai sendiri, ada beberapa corak, terlihat dengan jelas dan sudah dilakukan penelitian oleh Tim Gabungan dari Badan perbukalaan yang berkedudukan di Ternate. Corak yang paling banyak ditemukan adalah lukisan tangan. Lukisan tangan ini menggambarkan kekuasaan  suatu kelompok pada zaman itu terhadap tempat tersebut. Lukisan tangan tidak hanya menggambarkan tangan kiri saja, ada juga menggambarkan tangan kanan. Lukisan tangan ini, ada yang tergambar dengan utuh lima jari, ada juga yang tidak utuh lima jari.

Lizard,stone ax,gecko and many  abstract painting presented in this wall

Lizard,stone ax,gecko and many abstract painting presented in this wall

Di galeri dinding ini juga tergambar lukisan rahim wanita. Hal ini menggambarkan tentang kesuburan dan kemakmuran, layaknya seorang wanita yang dapat melahirkan anak.  Yang paling menarik adalah corak ikan Paus dan ikan kecil lainnya. Corak ikan Paus bisa dihubungkan dengan Paus Bryde’s, yang teridentifikasi melakukan migrasi di daerah ini. Sedangkan ikan kecil lainnya merujuk pada keberadaan ikan lumba-lumba, duyung dan ikan lainnya.  Corak ikan ini, bisa diartikan bahwa, Kaimana terletak di daerah Segitiga Terumbu Karang Dunia, sehingga kekayaan bawah airnya sangat beragam.

Masih banyak corak seperti, matahari,kadal, cecak, naga, kampak batu, lukisan abstrak dan lainnya. Sedangkan untuk penjabarannya, tentu saja membutuhkan penelitian dari para ahli dibidang tersebut.

Untuk menikmati keindahan lukisan dinding purba, dapat ditempuh kurang lebih 1 jam menggunakan speedboat menuju ke arah Telut Triton, tepatnya di Selat Namatota setelah kampung Maimai.

Lukisan dinding purba ini, menjadi ikon secara tidak langsung untuk kota Kaimana. Selain keindahan senjanya yang terukir manis di lirik lagu Senja di Kaimana dan keindahan alam bawah lautnya yang mempesona , tentu saja Lukisan Dinding Purba masih menjadi primadona.

 

 

 

 

 

Traditional markets in Kaimana, West Papua

Traditional Market in Kaimana. Located behind the hills, and in addition to the river mouth.

Traditional Market in Kaimana. Located behind the hills, and in addition to the river mouth.

The located this traditional market is beside of the river, and so close from the beach. This market is very unique, sellers put the item of the merchandise on the ground with simple pedestal. In this market, is not available tool for weighing scales, standards all item only per stacks. so, there are no standard sizes in purchasing. Price is also very uniform. Starting Rp 5.000 to Rp 10.000, or can be said to be a multiple of Rp. 5.000. In Kaimana market, does not apply to bargain, like the market in general. All price are definitely or standards.

Sellers in this market are  mostly people of Papua, only a few entrants. Merchandise on offer in this market is also diverse, like selling daily necessities and also sold staple food of Papua like tubers, banana and sago. And available Pinang and Sirih. Pinang and sirih is traditional snack people in Papua.

With hills as a background and beside the river, this market is very beautiful. if you are lucky to visit in this market when dusk is coming.  The hills will emit light golden colour of the sun reflection.