Seka dance from the south of the Papua Island

Ragam budaya mewarnai Pulau terbesar kedua di  Dunia, Papua. Terletak di paling Timur Indonesia-menyimpan kekayaan adat dan budaya esotik memukau. Salah satunya terpancar dari seni tari-tarian. Di dalam kehidupan manusia, tari tidak dapat dipisahkan dengan aktivitas keseharian. Tari melambangkan identitas masyarakat itu sendiri.

Seka dance from Napiti tribe in kaimana

Seka dance from Napiti tribe in kaimana

 

Tari Seka-merupakan salah satu tarian adat masyarakat di Selatan Papua, yang meliputi wilayah Timika, Kaimana dan Fakfak. Tarian yang melambangkan ucapan rasa syukur kepada Sang Pencipta ini hadir mewarnai kehidupan masyarakat pesisir. Pada awalnya, tarian ini dilakukan sebagai ucapan syukur di kala hasil panen melimpah serta prosesi adat pernikahan, yaitu menghantarkan gadis ke calon mempelai laki-laki. Namun, seiring waktu berjalan, tarian ini juga melukis tanah papua sebagai tari pergaulan dan penyambutan tamu.

Di Kaimana, suku Napiti dan Suku Miere masih menggunakan tari Seka dalam denyut aktivitas sehari-hari. Sama halnya seperti di  Timika, Suku Komoro  menghidupkan irama budaya melalui tarian ini. Namun, di Suku Komoro tari Seka juga melambangkan semangat ketika akan  berperang, pada waktu lampau.

Selain Tari Seka, masih banyak terdapat tarian lainnya membingkai makna adat istiadat seperti tari perang, tari tokok sagu, tari melaut dan sebagainya. Budaya tarian yang mengakar dalam sendi kehidupan ini, hidup dengan ruangnya sendiri membentuk keragaman.

Seka dance from Napiti Tribe

Seka dance from Napiti Tribe

 

 

 

Advertisements

Traditional Flower Markets in Berastagi, North Sumatra

 

one corner of the traditional flower market

one corner of the traditional flower market

 

Blooms plucked across Karo plateau pop up at Berastagi, one of the traditional flower market in North Sumatra. It’s wholesale, meaning the fragrant piles of tuberoses, gladiolus, carnation, and lilies appears every corner of the market. Bright yellow chrysanthemums, a favorite for traditional bouquets. This market open at 06:00 AM until 01:00 PM

 

 

Sisi lain berlabuhnya Kapal Tidar di Kaimana

 

Foto 2

Aktivitas perahu bermesin tempel hilir mudik berjejalan disamping kapal berpenumpang total 1904 orang ini, tak kala kapal buatan Jerman  buang sauh di 1 km dari pelabuhan Kaimana.

Tidar, nama kapal Pelni ini. Menempuh perjalanan dari Ibukota Jakarta menuju Kaimana, dengan menyinggahi beberapa kota kecil di Indonesia Timur. Di Kaimana, si Kapal buatan Jerman tahun 1987  ini tidak bisa bersandar, maklum saja kabupaten yang masih bersolek setelah berpisah dari Kab.FakFak di tahun 2002 belum memiliki pelabuhan untuk disandarin kapal-kapal besar.

Namun begitu, kesempatan ini dimanfaatkan masyarakat untuk mengais rezeki dengan menawarkan jasa perahu tempel. Sebenarnya, Pemda Kaimana sudah menyediakan sebuah kapal penjemput. Hanya saja, kondisi penuh sesak dijadikan alasan beberapa penumpang lebih memilih perahu tempel sebagai transportasi penyambung.

Sebagai Kabupaten yang baru mekar, tentu saja pembangunan terlihat wara-wiri di segala sektor, Tidak ketinggalan berbenah diri untuk Pelabuhan. Kenyataannya, jika pelabuhan rampung dan dapat disandarin kapal-kapal besar, maka masyarakat yang berprofesi sebagai penjemput di perahu motor tempel akan kehilangan mata pencaharian. Tentu saja ini cukup menjadi perhatian. Di satu sisi, pembangunan hal mutlak dilakukan di daerah yang sedang mekar dan berkembang, di sisi lain himpitan kehidupan menjepit masyarakat di daerah itu sendiri

Meeka Umitou Culture, West Papua, Indonesia

Mee tribal demonstrate Meeka Umitou culture on Kaimana Twilight Festival, in Kaimana, West Papua. Mee tribe is one of the tribes that occupy Kaimana Regency. This tribe live in the mountains.

Men of the tribe MEE, demonstrated a war dance

Men of the tribe MEE, demonstrated a war dance

 

Pulau Venu, Rumah si “Duta Laut” dari Kaimana, Papua Barat

Perlindungan Pantai peneluran Penyu

Ombak menerjang bibir pantai, disertai angin kencang menyapu pasir putih pulau dengan luas tiga kali lapangan sepakbola di ujung barat Kaimana ini. Pulau Venu, demikian masyarakat kampung menyebutnya. Venu dalam bahasa Suku Koiway bermakna pulau telur. Penamaan ini sesuai dengan hadirnya ratusan penyu yang bertelur di sepanjang pasir putihnya.

Di pulau Venu  bersarang tiga jenis penyu yaitu, penyu hijau (Chelonia mydas),penyu sisik (Eretmochelys imbricate) dan Lekang (Lepidochelys olivacea). Topografi yang relative datar dengan ketinggian 0 sampai 7 meter di atas permukaan laut, serta bagian tepi luar pantainya dikelilingi pasir merupakan lokasi yang ideal untuk penyu naik dan bertelur.

Conservation International (CI) bekerjasama dengan Balai Besar KSDA Papua Barat, melalui Seksi KSDA Wilayah IV Kaimana, dan masyarakat Adat setempat melakukan kegiatan pemantauan di Pulau Venu. Kegiatan ini berupa pendataan dan pembentukan tim Patroli pengawasan daerah peneluran penyu, yang dimulai sejak Februari 2011.

Pendataan dilakukan bertujuan untuk mengetahui waktu (tanggal dan jam) penyu naik bertelur, jenis penyu, lokasi dominan tempat bertelur, ukuran induk penyu, frekuensi peneluran dan jumlah telur yang dihasilkan dari tiap induk penyu .  Pelaksanaan pemantauan  dilakukan setiap malam pada jam 19.00  sampai 23.00 WIT. Apabila menemukan penyu naik dan bertelur, maka dilakukan identifikasi, pengukuran, serta pemberian tanda pada setiap lokasi tempat bertelur.

Tim Patroli bertugas melakukan perlindungan terhadap ancaman, baik secara alami (abrasi,predator) maupun non alami (manusia). Tim Patroli ini akan menindak bagi pelanggar yang melakukan perbuatan yang bersifat mengancam keberlangsungan hidup penyu.

Untuk mencapai Pulau Venu dari ibukota kabupaten, dibutuhkan waktu dua sampai tiga jam perjalanan laut dengan menumpang speedboat bermesin ganda 40 PK. Pulau ini terbangun dari tumpukan pasir putih berkerikil dengan panjang kurang lebih meter, lebar 300 meter dan panjang 700 meter. Bentuknya seperti gelang, dimana bagian tengahnya terdapat kolam air asin yang mengalami pasang surut, mengikuti air laut. Secara geografis Pulau yang masih dihuni burung Maleo ini terletak di 1330 26’ 32” BT sampai 1330 34’ 19’’ BT dan 40 13’ 57’’ LS sampai 40 22’ 51’’ LS, artinya tepat di selatan kepala burung Provinsi Papua Barat yang berhadapan langsung dengan Laut Aru.

 

 

 

Tete Irisa, menjaga Jalepi, Eran dan Bambawar dari kepunahan

Seperti biasanya, setiap malam Irisa Sawoka (60 tahun)  berpatroli mengelilingi pulau untuk mendeteksi jejak penyu yang naik ke pantai untuk  bertelur. Dibantu Yohan (40 tahun), menyusuri pantai tampa penerangan merupakan rutinitas kedua staff CI ini.  Tete Irisa biasanya laki-laki paruh baya ini disapa, penjaga perintis perlindungan peneluran di Pulau Venu.  Tidak memiliki pengetahuan mengenai perlindungan penyu, tidak menyurutkan tekad beliau menjalankan tugasnya. “Jelepi dan Eran yang paling banyak naik dan bertelur tampa mengenal musim,” ujar beliau sambil menggali lubang untuk memindahkan telur penyu ke lokasi perlindungan di depan pos penjagaan. Sedangkan bambawar, lebih banyak naik di musim pancaroba atau sekitar bulan oktober, selain musim itu hanya terlihat satu atau dua ekor seja. Dalam bahasa Koiway, jelepi berarti penyu hijau, eran penyu sisik dan bambawar adalah lekang. Ketiga jenis ini sudah lama dikenal oleh masyarakat sekitar Pulau Venu.

Dalam satu malam, penyu naik dan bertelur sekitar 10 sampai 15 ekor. Setelah dilakukan identifikasi,  dilanjutkan dengan  pemberian nomor sarang. Tujuannya untuk mengetahui jumlah penyu yang naik dan bertelur. Pagi hari, aktivitas pemindahan telur dari sarang ke lokasi perlindungan dilakukan tete Irisa dengan berbekal sebuah ember besar. Menurut beliau, pemindahan ini untuk mencegah predator memangsa telur dan memperbesar kemungkinan tukik menentas,  serta membantu pelepasan tukik ke laut. Pemindahan telur ini dilakukan dibawah  1X24  jam, hal ini mengantisipasi  putih telur tidak  melebur sehingga menekan angka  kegagalan pembentuan embrio tukik. Lokasi baru digali sesuai dengan sarang aslinya dengan kedalaman 60 cm. Telur penyu akan menetas dan mencari jalan keluar setelah 30 sampai 40 hari. “Ada yang unik ketika tukik menetas, “ kata bapak empat anak kelahiran asli Kaimana ini. Tukik dapat mengetahui secara naluri tidak akan turun ke pantai ketika hari masih terang, tukik-tukik ini hanya mengintip saja di tumpukan pasir, lalu membenamkan diri kembali kedalam sarang, dan akan keluar memulai pengembaraannya di lautan ketika matahari sudah turun atau malam tiba.

Di Pulau Venu, pelepasan tukik dilakukan sekitar pukul 19.00 WIT. Hal ini untuk menghindari terjangan predator di darat maupun dilautan. “ Hanya 2 tukik saja yang dapat besar dan kembali ke pulau untuk bertelur dari 180 sampai 200 telur yang kita lepaskan,” ujar tete Irisa parau. Bayangkan saja, dari rata-rata satu sarang yang menghasilkan 180 sampai 200 telur, hanya 2 saja yang selamat dari evolusi alami. Persaingan sudah dimulai sejak tukik-tukik ini ditelurkan, memulai langkah pertama di lautan sampai diburu untuk diambil karapasnya.

 

 Penyu, sejarahnya, hari ini dan masa depan

Ketika belum adanya perlindungan pantai peneluran penyu, banyak aktivitas exploitasi terhadap hewan laut yang terkenal sebagai pengembara samudera ini. Penangkapan besar-besaran terjadi sekitar tahun 1960-an sampai 2010 . Ribuan ekor penyu hijau dan penyu sisik berpindah dari pantai berpasir ke perahu nelayan. Bahkan, telur penyu tidak memiliki kesempatan untuk menetas. Penjarahan telur juga dilakukan untuk dikonsumsi. Menurut tete Irisa, nelayan luar daerah yang datang mengambil penyu. Mereka  mengambil karapasnya saja. Sedangkan dagingnya ditinggalkan dan hanya sebahagian kecil saja dikonsumsi. Penjarah bukan dari masyarakat di sekitar pulau, mereka datang dari Sulawesi dan Tual.

Tahun berganti, ribuan ekor penyu yang biasanya mendarat mulai menyusut jumlahnya. Sebagian masyarakat menyadari hal tersebut. Namun untuk melakukan perlindungan sangatlah tidak mudah. Keterbatasan sarana dan pengetahuan menjadi hambatan utama. Langkah yang dibangun atas inisiatif CI yang menggandeng BKSDA, untuk melindungi pantai peneluran penyu mendapat dukungan dari masyarakat dan pemilik petuanan. Berdasarkan data CI tahun 2011 sampai 2013, penyu yang naik dan bertelur berjumlah 2.477 ekor. Tentu saja, ini merupakan hasil yang positif dari kerja sama berbagai pihak untuk menyelamatkan si duta laut dari kepunahan.

 

 

 

 

 

Pembuatan Sagu di Kampung Lobo, Teluk Triton, Kaimana, Papua Barat

Udara untuk kehidupan, sagu untuk persaudaraan. Begitu melekatnya makanan tradisional ini di kehidupan masyarakat Papua.  Sebut saja Papeda-makanan berbahan dasar sagu, menjadi simbol budaya Papua Pesisir.

Sagu- terbuat dari endapan sari pohon sagu, yang diproses secara tradisional. Proses pembuatannya pun masih sederhana. Pohon sagu terpilih ditebang, dengan sebelumnya dibersihkan dari duri serta dahannya. Dilanjutan pengambilan serat serta peramasan.

Tumbuhan  pesisir ini terbagi menjadi dua berdasarkan lokasi hidupnya, yaitu sagu di rawa dan sagu di daratan. Sagu merah  dihasilkan oleh pohon yang mendiami daerah rawa, sedangkan sagu putih untuk  yang hidup di daratan. Karakteristik biologisnya juga terbagi atas sagu berduri dan tidak berduri. Namun demikian, tidak ada perbedaan rasa untuk hal ini. Sagu tetap dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat Papua Pesisir.

Mawas Wanoman

Tokok Sagu atau biasa disebut dengan Mawas Wanoman oleh suku Maerasi, dimulai dengan menyiapkan Oere (alat penokok sagu). Oere terbuat dari pohon sagu itu sendiri, yang dibentuk seperti palu. Fungsinya, untuk memukul batang sagu hingga serat-serat halusnya terpisah. Serat itulah yang akan menghasilkan sagu. Menurut Bapak Yustus Wejanggae (39 tahun), waktu mawas wanoman tergantung dari jumlah pekerja. Untuk satu pohon, bisa dikerjakan dalam waktu tiga sampai tujuh hari.  Jika dikerjakan  banyak orang, batang sagu dibelah menjadi dua (antero) namun jika dikerjakan sendiri batang akan dibagi menjadi 3 bagian.

Tokok sagu ini dikerjakan langsung di lokasi penebangan. Pembuatan para-para (tempat duduk) menggunakan bahan yang tersedia di alam. Bunyi Oere bertalu-talu menghasilkan serat-serat halus yang siap diramas.

Mawas Wanoman

Mawas Wanoman

Mawas Fuseman

Ramas sagu atau mawas fuseman-proses pemerasan serat menjadi pati sagu. Di suku Maerasi, Teluk Triton, terdapat beberapa tempat yang biasanya digunakan untuk lokasi pengambilan pohon sagu. Salah satunya di Wawena kampung Lobo. Lokasi ini sangat dekat dengan pantai atau artinya sagu yang dihasilkan akan berwarna merah. Begitu juga dengan peralatan yang digunakan, masih tercium aroma pantainya. Mawas ambir (pelepah sagu) digunakan sebagai wadah mawas fuseman. Dengan ditopang dua bilah kayu diameter 5 cm di belakang, serta diselonjorkan kearah depan mengerucut ke wadah penampungan yang ditopang tiga bilah kayu. Tak lupa, ujungnya ditutup oleh jarring halus sebagai jembatan bulir-bulir pati. Ada juga Kole-kole (sampan yang terbuat dari satu buah pohon utuh) berfungsi sebagai  wadah penampung air perasan serat sagu  yang mengandung pati. Terdapat juga jaring halus, tomang (wadah yang terbuat dari daun sagu), ember besar, gayung serta pelangkapnya yaitu air tawar.

Mawas fuseman dimulai dengan membasahi serat halus sagu sambil diremas-remas menggunakan tangan. Proses ini dilakukan secara berulang-ulang, sampai pati keluar dan tergerus. Aliran pati bermuara dan mengendap di dasar kole-kole membentuk sagu siap digunakan. “ Tidak ada tanda dan waktu khusus memeras sagu, semua berdasarkan pengalaman saja”, ujar Yakomina sambil tersenyum. Beliau juga menambahkan, dalam satu hari bisa terisi dua buah tomang. Sedangkan, satu pohon dapat  menghasilkan delapan sampai duabelas tomang. Satu tomang sagu dihargai Rp 150.000 sampai Rp. 200.000.

Sagu akan bertahan tiga bulan didalam tomang. Untuk pengawetannya cukup dengan merendam pati sagu didalam air tiap satu bulan sekali.

Mawas Fuseman is squeezing activity sago fibers to produce sago starch

Mawas Fuseman is squeezing activity sago fibers to produce sago starch

Sagu

Tumbuhan pesisir ini bernama latin Metroxylon sagu. Sagu merupakan makanan pokok bagi masyarakat di Papua dan Maluku. Tanaman sagu tumbuh secara alami terutama di daerah dataran atau rawa dengan sumber air yang melimpah. Hampir 50 % tanaman sagu dunia terdapat di Indonesia, dengan 90% jumlah tersebut tersebar di Papua dan Maluku.

Di daerah  di Indonesia Timur, masyarakat  mengonsumsi sagu dalam makanan sehari-hari. Misalnya saja, Ambon terkenal dengan sinole atau bubur sagu dari Maluku yang berbahan dasar sama. Keunikan corak budaya kuliner Indonesia memiliki persamaan dengan perbedaan warna.

Di Kaimana, Papua Barat-pembuatan sagu banyak ditemui di kampung-kampung Distrik. Itupun jumlahnya semakin berkurang. Gempuran pembangunan mendesak bibir pantai bersahabat dengan tembok-tembok. Pemukiman penduduk juga ikut merambah habitat pohon sejuta manfaat ini. Kearifan lokal lah, yang  menyelamatkan kelestarian  kuliner daerah yang tertanan di kehidupan budaya Mawas Wanoman ini.