Bameti dan Balobe : Tradisi Pemanfaatan Sumberdaya Laut yang Berkelanjutan

 

Balobe

Waktu menunjukan 02.00 WIT,  ketika Ledrik Sawy (42 tahun) memompa lampu petromak di atas kole-kole (sejenis perahu tradisional Papua yang terbuat dari satu buah kayu utuh), dan secepat kilat Jonathan Wega (38 tahun) mengayuh pengayuh, untuk mengarahkan haluan menuju pulau tiga di depan kampung Wamesa di Kaimana, Papua Barat.

Dini hari ketika air laut surut, beberapa masyarakat turun ke laut balobe. Balobe adalah istilah yang digunakan masyarakat pesisir Papua untuk kegiatan mencari hasil laut dengan menggunakan alat penikam yang disebut dengan kalawai. Kalawai  merupakan sebuah tombak yang digunakan untuk menikam buruan atau mangsa yang terbuat dari kayu dengan ujungnya terdapat besi tajam bermata tiga. Aktivitas balobe dilakukan pada malam hari, terutama ketika bulan gelap. Biasanya, masyarakat balobe ikan, teripang, lobster, dan terkadang gurita. “Ketika bulan gelap, hewan laut terutama ikan tidak banyak melakukan perpindahan secara cepat” tutur Ledrik Sawy. Di saat itulah kesempatan untuk menikam ikan dengan bantuan penerangan lampu petromak.

Balobe sudah dilakukan sejak dahulu sebelum alat tangkap ikan berkembang. Sebenarnya, Balobe merupakan penangkapan yang ramah lingkungan, karena tidak merusak karang, ataupun menangkap berlebihan (over eksploitasi). “Balobe hanya untuk makan sehari-hari saja” ujar Jonathan Wega. Namun, jika terdapat kelebihan hasil tangkapan maka akan dijual untuk menambah perekonomian keluarga. Ditambahkannya, masyarakat kampung Wamesa hanya menikam ikan pada awalnya, akan tetapi dengan adanya permintaan pasar untuk hasil perikanan bernilai ekonomi tinggi seperti teripang dan lobster, maka masyarakat turut serta menambahkan hewan-hewan tersebut dalam daftar buruannya.

 

Bameti

Masyarakat Papua pesisir memiliki tradisi turun ke pantai untuk Bameti. Bameti adalah kegiatan memungut kerang-kerangan (gleaning shellfish)  dan udang saat air laut surut “meti” dan pada saat bulan gelap. Bameti merupakan tradisi kuno perikanan tangkap yang hanya menggunakan tangkapan tangan (hand capture) yang masih dipraktekkan hingga waktu sekarang ini. Tradisi yang hadir dalam beradaptasi dengan karakteristik wilayah Papua pesisir yang memiliki kontur batimetri yang datar menjorok ke laut, awalnya  dilakukan ketika masyarakat belum mengenal alat tangkap ikan.

Bameti masih menjadi andalan masyarakat pesisir Papua, seperti yang dilakukan masyarakat Kaimana. Tradisi ini tidak membutuhkan keahlian khusus, serta peralatan penangkapan. Hanya butuh pengeruk atau benda pencungkil untuk hasil tangkapan kerang-kerangan, serta keret dan helai lidi pohon kelapa untuk hasil tangkapan udang dan lobster. Caranya cukup mudah, pasang karet pada ujung sapu lidi, dengan teknik menarik dan menembak diarahkan kepada hewan buruan, yaitu udang dan lobster. Biasanya Bameti hanya dilakukan masyarakat Papua untuk memenuhi kehidupan sehari-hari, atau dalam artian bukan mata pencaharian utama seperti nelayan yang keseluruhan hidupnya tergantung pada hasil laut. Bameti lebih pada aktivitas bersama keluarga di waktu luang, serta waktu berkumpul masyarakat kampung di lokasi yang sama. Terkadang, Bameti dilakukan masyarakat Papua untuk bersantai bersama keluarga besar dalam Marga yang sama, dimana hasil tangkapan akan dimasak, serta dikonsumsi di pinggir pantai.

Bameti 1

Alat Tangkap Kalawai

 

Kearifan Lokal dalam Pemanfaatan Sumberdaya Ikan

Kesadaran masyarakat untuk hidup selaras dengan alam sebenarnya sudah biasa dipraktekkan dari leluhur mereka. Perikanan non komersial atau perikanan subsisten merupakan wujud pengaturan dan perlindungan nyata prilaku hidup mereka. Bameti dan Balobe adalah tradisi yang mencerminkan prilaku ramah lingkungan sebagai bentuk budaya masyarakat pesisir Papua. Tidak banyak hasil tangkapan dari kedua metode ini, karena hanya dipakai untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga masyarakat adat suku-suku di Kaimana.

Bameti dan Balobe adalah prilaku konservasionis  produk tempo dahulu, yang rmerupakan perwujudan kearifan lokal. Potret pengetahuan budaya (cultural knowledge) dalam kehidupan sehari-hari massyarakat pesisir Papua dalam pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya alam ini, nyatanya berdampak sangat signifikan terhadap ketersediaan pangan. Cultural knowledge dipergunakan dalam memahami lingkungan, serta mendorong terbentuknya prilaku budaya yang selaras, seimbang, bersinergi dengan alam.

Dalam Bameti dan Balobe, berlaku aturan tidak tertulis berupa ambil “manfaatkan” seperlunya dan secukupnya saja. Tindakan ini memastikan ketersediaan sumberdaya berkelanjutan bagi generasi penerus. Praktek Bameti dan Balobe merupakan bukti bagaimana masyarakat lokal memanfaatkan sumberdaya mereka dengan peralatan sederhana bahkan tradisional. Sehingga dapat dikatakan contoh pemanfaatan secara arif dan bijaksana yang tercermin dalam budaya kearifan lokal dalam sumberdaya ikan di Kaimana.

Foto 2

Teripang, Hasil Tangkapan Balobe dan Bameti

11539074_10200578912790765_8685446916955644172_o

Kerang-kerangan, hasil dari Bameti

 

Pariwisata berbasiskan Kearifan Lokal Masyarakat Pesisir

Sektor pariwisata masih dalam  proses perkembangan di Kabupaten pemekaran tahun 2003 ini. Hal ini dapat dilihat dari pembenahan yang menunjang kenyaman wisatawan, seperti hotel, dan transportasi. Kaimana yang terletak di Selatan Pulau Papua, yang berhadapan langsung dengan Laut Aru ini, belum begitu banyak dikunjungi wisatawan. Tentu saja, transportasi yang cukup mahal menjadi salah satu alasannya. Untuk menuju Kaimana, penerbangan menggunakan pesawat ATR milik maskapai Wings merupakan satu-satunya yang mendarat untuk melayani jalur lintas Papua dan Maluku. Sisanya, hanya terdapat kapal Pelni yang berlabuh setiap dua minggu sekali.

Dalam kurun waktu lima tahun, sebahagian besar wisatawan yang berkunjung berasal dari luar negeri. Tujuan mereka lebih menfokuskan diri pada wisata menyelam di Teluk Triton, Selat Iris, dan Selat Bicari. Maklum saja, ketiga lokasi tersebut, terkenal dengan keindahan alam bawah airnya yang menakjubkan sehingga para peneliti kelautan dunia menjulukinnya sebagai “Kingdom of Fishes”.

Wajah pariwisata Kaimana perlahan-lahan berubah dalam kurun waktu dua tahun terakhir. Awalnya menggantungkan diri dari sektor keindahan alam bawah air, perlahan bangkit menunjukan jati diri masyarakat adat melalui budaya, salah satunya adalah atraksi kearifan lokal. Wisatawan asing yang tertarik akan budaya masyarakat pesisir Papua, berkeinginan masuk dan mempelajari bagaimana masyarakat lokal memanfaatkan sumberdaya alamnya. Dalam perjalanan ke Teluk Triton, saya bertemu dengan Mark (45 tahun) wisatawan yang berasal dari Inggris. Menurut Mark, aktivitas masyarakat pesisir Papua sangat menarik. Cara masyarakat lokal menghormatin dan menghargai alam itu sangat luar biasa. Mark yang berprofesi sebagai Konsultant Energi ini menambahkan, begitu tertarik untuk membaur dengan mama-mama Papua Bameti di sepanjang bibir pantai, yang kemudian mengolah hasil untuk dimakan bersama. Merasakan atmosfir lokal itu sesuatu yang beliau tidak bayangkan sebelumnya. “Ini merupakan tradisi masa lampau yang masih dipertahankan” ujar beliau menutup perbincangan kami sore ini.

Lain lagi dengan Jeny (30 tahun), wisatawan yang berasal dari Amerika tersebut begitu antusias ketika diajak untuk Balobe. “Saya sangat penasaran untuk melihat masyarakat lokal menangkap ikan di malam hari”, kata wanita yang berasal dari  Florida ini. Saya bertemu Jeny di pasar tradisional Kaimana, ketika ia berbincang dengan warga Kampung Wamesa. Kemudian, perbincangan kami berlanjut mengenai budaya masyarakat pesisir Kaimana dalam memanfaatkan sumberdaya alam, yang diakhiri ajakan dari Ledrik Sawy untuk berkunjung, serta ikut serta dengan beliau Balobe.

Menurut Jeny, turut serta Balobe bersama masyarakat lokal menjadi destinasi wisata unik. Belajar bagaimana masyarakat memperlakukan laut dengan tetap memperhatikan keberlanjutannya, sangat sarat dengan nilai-nilai konservasi yang banyak digaungkan konservasionis saat sekarang ini. Tidak semua orang dapat merasakan dan melihat bagaimana masyarakat lokal memperlakukan alam dengan bijaksana. Dengan adanya keterlibatan wisatawan dalam budaya kearifan lokal, tentu memberikan pandangan baru, bahkan ide-ide segar buat pengunjungnya dalam menghargai alam. Ini bukan tentang bagaimana cara pandang luar untuk melihat lebih dalam budaya masyarakat pesisir, namun lebih kepada bagaimana kita menyadari kita membutuhkan alam untuk hidup dan berkembang. Menutup perjalanan saya di awal tahun 2016 di Selatan Pulau Papua, saya menyadari bahwa “Manusia menjaga, alampun memberi”.

Advertisements

Pembuatan Sagu di Kampung Lobo, Teluk Triton, Kaimana, Papua Barat

Udara untuk kehidupan, sagu untuk persaudaraan. Begitu melekatnya makanan tradisional ini di kehidupan masyarakat Papua.  Sebut saja Papeda-makanan berbahan dasar sagu, menjadi simbol budaya Papua Pesisir.

Sagu- terbuat dari endapan sari pohon sagu, yang diproses secara tradisional. Proses pembuatannya pun masih sederhana. Pohon sagu terpilih ditebang, dengan sebelumnya dibersihkan dari duri serta dahannya. Dilanjutan pengambilan serat serta peramasan.

Tumbuhan  pesisir ini terbagi menjadi dua berdasarkan lokasi hidupnya, yaitu sagu di rawa dan sagu di daratan. Sagu merah  dihasilkan oleh pohon yang mendiami daerah rawa, sedangkan sagu putih untuk  yang hidup di daratan. Karakteristik biologisnya juga terbagi atas sagu berduri dan tidak berduri. Namun demikian, tidak ada perbedaan rasa untuk hal ini. Sagu tetap dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat Papua Pesisir.

Mawas Wanoman

Tokok Sagu atau biasa disebut dengan Mawas Wanoman oleh suku Maerasi, dimulai dengan menyiapkan Oere (alat penokok sagu). Oere terbuat dari pohon sagu itu sendiri, yang dibentuk seperti palu. Fungsinya, untuk memukul batang sagu hingga serat-serat halusnya terpisah. Serat itulah yang akan menghasilkan sagu. Menurut Bapak Yustus Wejanggae (39 tahun), waktu mawas wanoman tergantung dari jumlah pekerja. Untuk satu pohon, bisa dikerjakan dalam waktu tiga sampai tujuh hari.  Jika dikerjakan  banyak orang, batang sagu dibelah menjadi dua (antero) namun jika dikerjakan sendiri batang akan dibagi menjadi 3 bagian.

Tokok sagu ini dikerjakan langsung di lokasi penebangan. Pembuatan para-para (tempat duduk) menggunakan bahan yang tersedia di alam. Bunyi Oere bertalu-talu menghasilkan serat-serat halus yang siap diramas.

Mawas Wanoman

Mawas Wanoman

Mawas Fuseman

Ramas sagu atau mawas fuseman-proses pemerasan serat menjadi pati sagu. Di suku Maerasi, Teluk Triton, terdapat beberapa tempat yang biasanya digunakan untuk lokasi pengambilan pohon sagu. Salah satunya di Wawena kampung Lobo. Lokasi ini sangat dekat dengan pantai atau artinya sagu yang dihasilkan akan berwarna merah. Begitu juga dengan peralatan yang digunakan, masih tercium aroma pantainya. Mawas ambir (pelepah sagu) digunakan sebagai wadah mawas fuseman. Dengan ditopang dua bilah kayu diameter 5 cm di belakang, serta diselonjorkan kearah depan mengerucut ke wadah penampungan yang ditopang tiga bilah kayu. Tak lupa, ujungnya ditutup oleh jarring halus sebagai jembatan bulir-bulir pati. Ada juga Kole-kole (sampan yang terbuat dari satu buah pohon utuh) berfungsi sebagai  wadah penampung air perasan serat sagu  yang mengandung pati. Terdapat juga jaring halus, tomang (wadah yang terbuat dari daun sagu), ember besar, gayung serta pelangkapnya yaitu air tawar.

Mawas fuseman dimulai dengan membasahi serat halus sagu sambil diremas-remas menggunakan tangan. Proses ini dilakukan secara berulang-ulang, sampai pati keluar dan tergerus. Aliran pati bermuara dan mengendap di dasar kole-kole membentuk sagu siap digunakan. “ Tidak ada tanda dan waktu khusus memeras sagu, semua berdasarkan pengalaman saja”, ujar Yakomina sambil tersenyum. Beliau juga menambahkan, dalam satu hari bisa terisi dua buah tomang. Sedangkan, satu pohon dapat  menghasilkan delapan sampai duabelas tomang. Satu tomang sagu dihargai Rp 150.000 sampai Rp. 200.000.

Sagu akan bertahan tiga bulan didalam tomang. Untuk pengawetannya cukup dengan merendam pati sagu didalam air tiap satu bulan sekali.

Mawas Fuseman is squeezing activity sago fibers to produce sago starch

Mawas Fuseman is squeezing activity sago fibers to produce sago starch

Sagu

Tumbuhan pesisir ini bernama latin Metroxylon sagu. Sagu merupakan makanan pokok bagi masyarakat di Papua dan Maluku. Tanaman sagu tumbuh secara alami terutama di daerah dataran atau rawa dengan sumber air yang melimpah. Hampir 50 % tanaman sagu dunia terdapat di Indonesia, dengan 90% jumlah tersebut tersebar di Papua dan Maluku.

Di daerah  di Indonesia Timur, masyarakat  mengonsumsi sagu dalam makanan sehari-hari. Misalnya saja, Ambon terkenal dengan sinole atau bubur sagu dari Maluku yang berbahan dasar sama. Keunikan corak budaya kuliner Indonesia memiliki persamaan dengan perbedaan warna.

Di Kaimana, Papua Barat-pembuatan sagu banyak ditemui di kampung-kampung Distrik. Itupun jumlahnya semakin berkurang. Gempuran pembangunan mendesak bibir pantai bersahabat dengan tembok-tembok. Pemukiman penduduk juga ikut merambah habitat pohon sejuta manfaat ini. Kearifan lokal lah, yang  menyelamatkan kelestarian  kuliner daerah yang tertanan di kehidupan budaya Mawas Wanoman ini.