Ancient Wall Painting in MaiMai Village, Kaimana, West Papua

Berbagai corak yang masih belum bisa diartikan pasti, terpajang laksana galleri alam di sepanjang  satu kilometer  di dinding tebing karang Kampung Maimai, Kaimana, Papua Barat. Torehan lukisan  merah menyala, tergurat jelas menandai  Jejak keberadaan suatu peradaban.

Lukisan dinding purba, begitu biasa masyarakat di daerah ini menyebutnya.  Terletak di tebing karang yang sukar dijangkau, tepatnya berada di ketinggian 10 meter diatas permukaan laut, memberi informasi akan usianya yang sangat panjang. Bisa saja, ketika peradaban ini ada, dan mulai menorehkan catatan kehidupan, struktur permukaan bumi tidak seperti yang terlihat hari ini. Tebing karang yang menjadi gallerinya, terangkat naik keatas, sehingga posisi lukisan ini jauh dari permukaan air. Sehingga untuk menikmatinya, harus puas hanya dari speedboat saja.

stone walls rise to the surface as a gallery of ancient painting

stone walls rise to the surface as a gallery of ancient painting

 

 

Lukisan dinding Goa biasanya dimulai pada zaman mezolitik awal. Warna merah pada lukisan purba ini, jika ditelaah ditandai pada Zaman epipaleolitik. Akan tetapi, ada beberapa corak berwarna kuning yang biasanya diukir pada zaman epipaleolitik akhir (awal mezolitik).  Namun, hingga saat ini masih dibutuhkan penelitian mendalam untuk mengetahui zaman pembuatannya.

Di Papua Barat, banyak terdapat lukisan dinding purba dengan corak yang hampir sama. Misalnya di Kabupaten Fak-Fak dan Raja Ampat.  Yang membedakannya, beberapa gambar tidak terdapat ditempat lain. Contohnya corak Burung Garuda, hanya terdapat di Lukisan dinding Purba di Kampung Maimai saja.  Hal ini bisa dihubungan dengan cerita orang tua dahulu, bahwa di Gunung Lobo, tidak jauh dari Maimai, terdapat Legenda Lambang Negara Indonesia itu, hidup dan mendiami gunung tersebut. Karena, setiap gambar yang terukir menjelaskan tentang kondisi daerah yang ditempati.

Di Kampung Maimai sendiri, ada beberapa corak, terlihat dengan jelas dan sudah dilakukan penelitian oleh Tim Gabungan dari Badan perbukalaan yang berkedudukan di Ternate. Corak yang paling banyak ditemukan adalah lukisan tangan. Lukisan tangan ini menggambarkan kekuasaan  suatu kelompok pada zaman itu terhadap tempat tersebut. Lukisan tangan tidak hanya menggambarkan tangan kiri saja, ada juga menggambarkan tangan kanan. Lukisan tangan ini, ada yang tergambar dengan utuh lima jari, ada juga yang tidak utuh lima jari.

Lizard,stone ax,gecko and many  abstract painting presented in this wall

Lizard,stone ax,gecko and many abstract painting presented in this wall

Di galeri dinding ini juga tergambar lukisan rahim wanita. Hal ini menggambarkan tentang kesuburan dan kemakmuran, layaknya seorang wanita yang dapat melahirkan anak.  Yang paling menarik adalah corak ikan Paus dan ikan kecil lainnya. Corak ikan Paus bisa dihubungkan dengan Paus Bryde’s, yang teridentifikasi melakukan migrasi di daerah ini. Sedangkan ikan kecil lainnya merujuk pada keberadaan ikan lumba-lumba, duyung dan ikan lainnya.  Corak ikan ini, bisa diartikan bahwa, Kaimana terletak di daerah Segitiga Terumbu Karang Dunia, sehingga kekayaan bawah airnya sangat beragam.

Masih banyak corak seperti, matahari,kadal, cecak, naga, kampak batu, lukisan abstrak dan lainnya. Sedangkan untuk penjabarannya, tentu saja membutuhkan penelitian dari para ahli dibidang tersebut.

Untuk menikmati keindahan lukisan dinding purba, dapat ditempuh kurang lebih 1 jam menggunakan speedboat menuju ke arah Telut Triton, tepatnya di Selat Namatota setelah kampung Maimai.

Lukisan dinding purba ini, menjadi ikon secara tidak langsung untuk kota Kaimana. Selain keindahan senjanya yang terukir manis di lirik lagu Senja di Kaimana dan keindahan alam bawah lautnya yang mempesona , tentu saja Lukisan Dinding Purba masih menjadi primadona.

 

 

 

 

 

Advertisements

Africa from Java

In the Savanah

In the Savannah

“Pernahkah menonton film Madagascar?”. Aksi kocak empat sekawan dari kebun binatang New York yang terdampar di hutan liar Afrika ini seakan-akan menyambut atmosfir savana di timur Pulau Jawa, Taman Nasional Baluran.

Aroma rumput kering tercium keras menusuk hidung, tatkala menempuh 7 km perjalanan awal ke Taman Nasional yang terkenal dengan rusa (Cervus timorensis russa) dan banteng (Bos javanicus). Bumbu petualangan pun bertambah semarak dengan informasi hadirnya penghuni baru di tempat yang terkenal dengan julukan Afrika dari Jawa, yaitu dua ekor anak macan akar ( Felis termmincki) yang baru saja dilahirkan oleh sang induk, dengan singgasananya tidak jauh dari jalan lintas wisatawan. Itu belum seberapa. Oktober yang ditandai dengan musim kawin Burung Merak (Pavo muticus) membawa petualangan ke tanah kering ini kian menggoda.

Ada banyak lokasi yang bisa menjadi pilihan wisatawan di Taman Nasional Baluran, seperti mendaki gunung Baluran, menjelajahi rapatnya hutan, mengejar rusa dan banteng liar di padang savana, menikmati senja di pantai tersembunyi dengan ditemani monyet-monyet kecil untuk sekedar duduk sambil membaca, ataupun mengamati tingkah laku burung dari ketinggian di menara pandang. Duduk-duduk di homestay yang tersedia di tengah-tengah Taman Nasional pun bisa menjadi pilihan jika ingin bersantai. Hanya saja, jika  ingin merasakan aroma petualangan khas Afrika, silakan menjejal padang rumput tandus savana di siang hari. Cukup panas pastinya, tetapi akan terbayarkan dengan aroma khas padang rumput liar. Dalam petualangan kali ini, padang savana menjadi tujuannya.

In the Savana

Savana-padang rumput kering dengan warna kuning khasnya-merupakan tujuan utama wisata di Taman Nasional Baluran. Layaknya savana di tanah kelahiran Nelson Mandela di Afrika, Baluran memiliki karakteristik khas savana, yaitu pohon-pohon berbatang kokoh-dengan dedaunan ditopang ranting laksana payung berkanopi atau yang dikenal dengan nama pohon Bakol-yang tersebar tidak merata di beberapa titik padang tandus dengan suhu hampir mendekati 33oC ini. Sang gunung Baluran pun tak kalah gagahnya menaungi padang rumput tandus ditemani awan putih yang membentuk lukisan abstrak layaknya lukisan krayon di buku gambar. Di savana ini biasanya ditemukan Rusa dan Banteng berkeliaran bebas merumput. Mereka biasa ditemukan di kubangan-kubangan yang airnya berasal dari tandon-tandon air yang memang sengaja disediakan.

Dengan serentak, kepala-kepala itu mengadah ke atas sambil ujung matanya melirik ke kanan dan ke kiri. Segerombolan penikmat rumput kering ini waspada dengan aroma tidak dikenal yang tiba-tiba saja hadir tanpa permisi bermain di halaman rumah mereka. Sang jantan-yang bertanduk mulai berlari mengitari daerah kekuasaannya-dengan awas menatap ke arah aroma asing di sekitarnya. Kakinya berdiri kokoh, menahan tubuh besarnya dengan dada dibusungkan ke depan. Keadaan hening seketika, yang terdengar hanya alunan rumput kering.

Oktober juga ditandai dengan berkumpulnya segerombolan rusa (Cervus timorensis russa) di padang rumput savana. Air menjadi alasannya. Di Oktober, persediaan air di dalam hutan berkurang, sehingga terjadi migrasi secara besar-besaran untuk mencari sumber air ke padang savana. Tentu saja, ini menjadi pemandangan menakjubkan. Belum habis rasa kagum akan tingkah hewan bertanduk ini, beberapa rusa jantan dewasa unjuk gigi mencari perhatian rusa betina. Berlari-lari mengitari sekawanan betina dewasa, memamerkan tanduk kokohnya, berjalan gagah laksana prajurit baris berbaris sampai memahkotai tanduknya dengan rumput segar.

Secara tidak langsung, padang rumput savana ini menjadi buku mini berisi ilmu pengetahuan akan tingkah laku hewan bertanduk dari genus Cervus ini. Hanya saja, maskot utama Baluran-banteng (Bos javanicus)-tidak terlihat. Menurut petugas, jumlah banteng di Taman Nasional Baluran mengalami penyusutan karena  perburuan liar terhadap tanduknya. Bahkan, hasil survei pada 2007 menyebutkan bahwa jumlah populasi binatang yang menjadi ciri khas tempat ini tinggal 30 ekor saja. “Banteng adalah binatang pemalu, jarang berkelompok lebih dari tiga ekor,” ujar petugas.

Kekeringan dan menyusutnya air juga menjadi penyebab menurunnya populasi hewan berkaki empat yang memiliki ciri khusus di kakinya-warna putih yang seperti kaus kaki. Untuk menyelamatkan populasi Banteng di Taman Nasional Baluran, petugas membangun tempat khusus di area Bakol, tidak jauh dari Pasanggrahan berupa lahan yang dipagari kawat tipis, untuk tempat pemulihan populasi Banteng.

 

Tarian musim kawin

Pagi ini, tatapan mata itu mengikuti gerak gerik laju kendaraan. Dia tidak sendiri. Ada beberapa melakukan hal yang sama dengan terus berdiri menjaga jarak dan kewaspadaannya. Binatang pertama yang mengajak berkenalan ini tiba-tiba saja pamer keindahan lekuk tubuhnya dan secepat kilat menghilang di rapatnya rerimbunan hutan. Pertemuan kedua mengobati rasa penasaran pagi tadi. Kali ini, lebih dari 12 ekor dengan santainya lalu lalang tanpa merasa terganggung dengan kehadiran manusia di sekitarnya. Dialah sang primadona di Oktober, burung merak berlenggak lenggok di catwalk rumput kering selasar Bakol yang sedang berburu pasangan di musim kawin.

Tumpukan warna kontras bulunya memikat siapa saja yang sekedar singgah, atau benar-benar mengagumi tingkah laku hewan Aves ini. Belum cukup puas membuai mata, si merak jantan pun beraksi, menari ala tarian khas musim kawin. Pagi ini, bukan hanya si betina saja yang terbuai akan keindahan tarian sang jantan, tapi semua mata yang berada di selasar ini ikut terpesona. Dibuka dengan langkah kecil, kaki mungil sang jantan berjalan perlahan sambil terus mengitari si betina buruannya dengan tatapan angkuh. Kepala ditegakkan lurus, perlahan-lahan bulu ekornya terkembang bak layar di kapal Pinisi, terbuka selebar-lebarnya. Hijau,biru, kuning, orange bercampur hitam pekat, memikat mata untuk terus tak berkedip memandangnya seolah-olah terhipnotis. Sang jantan tidak sendiri. Beberapa rekannya pun melakukan hal yang sama. Bisa dibayangkan sensasi pertunjukan pagi ini. Penuh dengan warna dan seni alam tersaji lengkap. Siapa yang tahan dengan godaan ini, tentu saja betina muda buruannya menjadi tak berdaya.

Burung merak (Pavo muticus)-keturunan unggas yang ditemukan di Taman Nasional Baluran-  hidup liar di dalam hutan dan juga bisa ditemukan di dalam kandang sekitar Bakol. Oktober merupakan waktu terbaik untuk mengamati hewan ini, karena bulan ini merupakan musim mencari pasangan atau kawin.

Raja kecil dari Baluran

“Beruntung sekali, berkunjung di bulan ini,” ujar Joko, salah satu Ranger di Taman Nasional Baluran. Kita kedatangan penghuni baru, dua ekor macan akar (Felis termmincki). “Lokasinyanya tidak jauh, jalan lurus ke arah savana, di jembatan pertama sebelah kanan tempat tinggalnya,” tambahnya. Pada siang hari, kedua anak macan akar ikut induknya mencari makan ke dalam hutan. Saat senja mulai turun, mereka akan bercengkrama di sana.

Langit Baluran berganti kuning keemasan, ketika laju kendaraan roda empat berhenti persis di jembatan. Hanya kaca jendela yang diturunkan, dengan lampu penerangan seadanya terus meraba sisi sungai kecil, tempat yang terkenal dengan rumah macan akar. Tidak ada satupun kaki yang berani keluar atau sekedar mendongkakkan kepala dari jendela. Nyali pun seakan-akan pergi menjauh dan tak kunjung kembali. Maklum saja, induk macan akar sedang semangat-semangatnya melindungi sang bayi yang masih seumur jagung itu. Bisa dibayangkan reaksi sang induk, ketika orang asing hadir di sana.

Hening, langit kuning keemasan berganti kelam, cuaca gersang berubah drastis dengan hembusan angin dingin malam menusuk tulang. Belum ada tanda-tanda kehadiran sang induk beranak dua ini. Meskipun mesin mobil sudah dimatikan, serta lampu penerangan dipadamkan. Tidak ada tanda-tanda kilauan mata tajamnya di gelap malam.

Menunggu dalam kecemasan dan rasa penasaran. Pada akhirnya menyerah, bisa saja si induk sudah mencium aroma ancaman, dengan secepat kilat membawa lari kedua anak tersayangnya. Bersembunyi di kaki pohon besar di rapatnya hutan Baluran. Rencana mengabadikan sang macan beserta kedua anak mungilnya pupus sudah. Perjalanan dilanjutkan kembali. Menikmati suasana malam di Taman Nasional di timur Pulau Jawa ini.

 

Baluran Mountain

Baluran Mountain

Taman Nasional Baluran

Taman Nasional Baluran-terletak di Kabupaten Situbondo dan Banyuwangi, Jawa Timur-diresmikan pada tahun 1980. Taman Nasional ini menempati luas area 22.500 hektar berupa hutan pesisir dan padang rumput serta diapit oleh tiga gunung, Baluran, Merapi, dan Ijen.

Perjalanan menuju Taman Nasional Baluran memakan waktu kurang lebih enam jam dari Surabaya. Cukup membayar tiket masuk sebesar Rp 2.500, pengunjung sudah bisa berinteraksi di dalam Taman Nasional. Fasilitas yang disediakan juga sangat lengkap, yaitu pusat informasi, jalan aspal, camping ground, menara pandang, pesanggrahan, serta penyewaan alat norkeling dan kano. Jika ingin bermalam, di Taman Nasional Baluran ini tersedia penginapan di dua lokasi yang berbeda, yaitu di Pesanggrahan Bakol dan Pantai Bama. Untuk menginap di sana, satu orang dikenakan Rp 50.000 per malam.

Tempat wisata utama yang bisa dikunjungi wisatawan adalah Bekol, Padang Savana, Pantai Bama, Pantai Balanan, dan Pantai Bilik. Jarak dari pintu masuk menuju Bekol sekitar 9 km dan ke pantai Bama 12 km. Sementara, padang savana berlokasi tidak jauh dari Bekol.

Untuk merasakan sensasi berpetualang di padang savana gersang nan liar ini, Anda tidak perlu terbang jauh ke Afrika. Anda cukup berkunjung ke Taman Nasional di ujung timur Pulau Jawa ini dan menikmati aroma khas padang tandus. Tidak ada salahnya mencoba bukan?

 

Tulisan ini bisa dibuka juga di Link

Traditional markets in Kaimana, West Papua

Traditional Market in Kaimana. Located behind the hills, and in addition to the river mouth.

Traditional Market in Kaimana. Located behind the hills, and in addition to the river mouth.

The located this traditional market is beside of the river, and so close from the beach. This market is very unique, sellers put the item of the merchandise on the ground with simple pedestal. In this market, is not available tool for weighing scales, standards all item only per stacks. so, there are no standard sizes in purchasing. Price is also very uniform. Starting Rp 5.000 to Rp 10.000, or can be said to be a multiple of Rp. 5.000. In Kaimana market, does not apply to bargain, like the market in general. All price are definitely or standards.

Sellers in this market are  mostly people of Papua, only a few entrants. Merchandise on offer in this market is also diverse, like selling daily necessities and also sold staple food of Papua like tubers, banana and sago. And available Pinang and Sirih. Pinang and sirih is traditional snack people in Papua.

With hills as a background and beside the river, this market is very beautiful. if you are lucky to visit in this market when dusk is coming.  The hills will emit light golden colour of the sun reflection.

 

Sumatra Orangutans are Critically Endangered, Bukitlawang, North Sumatra, Indonesia

There are less than 7.000 Sumatran orangutans left in the wild, and the population is declining every year. The main reasons for their decline like the expansion of oil-palm and rubber plantations into forest areas, unsustainable/illegal logging, habitat fragmentation leading to isolated populations and forest fires and hunting and poaching for the illegal pet trade. Orangutans the largest tree-dwelling(arboreal) mammal in the world and share 96,4 % of our genes. Orangutans spent most of their lives in the forest canopy, each night building a new nest in which to sleep.

Orangutans breed more slowly than any other mammal. On average, a mother will have a baby only once every  6-8 years – the time it takes the young to learn all the necessary skills for survival in the forest. Such a long breeding process makes it very difficult for orangutans to recover from any population declines.

So, save our Forest to save our Orangutan…       Orangutans are part of nature

This slideshow requires JavaScript.

Perjalanan ke Tanah Batak Toba

Setiap perjalanan memberikan udara baru yang tertulis dalam imajinasi. Yang mana akan membangkitkan inspirasi yang tidak terbendung untuk diceritakan. Perjalanan ini bukan perjalanan wisata untuk mengunjungi objek wisata. Akan tetapi, perjalanan mencari makna dari sebuah tujuan wisata itu sendiri.

Perjalanan ke tanah Batak Toba, mengukir cerita buat saya, tentang mereka yang ditemui di sepanjang cerita ini. Tentang rangkaian episode keseharian yang membentuk Budaya