Bameti dan Balobe : Tradisi Pemanfaatan Sumberdaya Laut yang Berkelanjutan

 

Balobe

Waktu menunjukan 02.00 WIT,  ketika Ledrik Sawy (42 tahun) memompa lampu petromak di atas kole-kole (sejenis perahu tradisional Papua yang terbuat dari satu buah kayu utuh), dan secepat kilat Jonathan Wega (38 tahun) mengayuh pengayuh, untuk mengarahkan haluan menuju pulau tiga di depan kampung Wamesa di Kaimana, Papua Barat.

Dini hari ketika air laut surut, beberapa masyarakat turun ke laut balobe. Balobe adalah istilah yang digunakan masyarakat pesisir Papua untuk kegiatan mencari hasil laut dengan menggunakan alat penikam yang disebut dengan kalawai. Kalawai  merupakan sebuah tombak yang digunakan untuk menikam buruan atau mangsa yang terbuat dari kayu dengan ujungnya terdapat besi tajam bermata tiga. Aktivitas balobe dilakukan pada malam hari, terutama ketika bulan gelap. Biasanya, masyarakat balobe ikan, teripang, lobster, dan terkadang gurita. “Ketika bulan gelap, hewan laut terutama ikan tidak banyak melakukan perpindahan secara cepat” tutur Ledrik Sawy. Di saat itulah kesempatan untuk menikam ikan dengan bantuan penerangan lampu petromak.

Balobe sudah dilakukan sejak dahulu sebelum alat tangkap ikan berkembang. Sebenarnya, Balobe merupakan penangkapan yang ramah lingkungan, karena tidak merusak karang, ataupun menangkap berlebihan (over eksploitasi). “Balobe hanya untuk makan sehari-hari saja” ujar Jonathan Wega. Namun, jika terdapat kelebihan hasil tangkapan maka akan dijual untuk menambah perekonomian keluarga. Ditambahkannya, masyarakat kampung Wamesa hanya menikam ikan pada awalnya, akan tetapi dengan adanya permintaan pasar untuk hasil perikanan bernilai ekonomi tinggi seperti teripang dan lobster, maka masyarakat turut serta menambahkan hewan-hewan tersebut dalam daftar buruannya.

 

Bameti

Masyarakat Papua pesisir memiliki tradisi turun ke pantai untuk Bameti. Bameti adalah kegiatan memungut kerang-kerangan (gleaning shellfish)  dan udang saat air laut surut “meti” dan pada saat bulan gelap. Bameti merupakan tradisi kuno perikanan tangkap yang hanya menggunakan tangkapan tangan (hand capture) yang masih dipraktekkan hingga waktu sekarang ini. Tradisi yang hadir dalam beradaptasi dengan karakteristik wilayah Papua pesisir yang memiliki kontur batimetri yang datar menjorok ke laut, awalnya  dilakukan ketika masyarakat belum mengenal alat tangkap ikan.

Bameti masih menjadi andalan masyarakat pesisir Papua, seperti yang dilakukan masyarakat Kaimana. Tradisi ini tidak membutuhkan keahlian khusus, serta peralatan penangkapan. Hanya butuh pengeruk atau benda pencungkil untuk hasil tangkapan kerang-kerangan, serta keret dan helai lidi pohon kelapa untuk hasil tangkapan udang dan lobster. Caranya cukup mudah, pasang karet pada ujung sapu lidi, dengan teknik menarik dan menembak diarahkan kepada hewan buruan, yaitu udang dan lobster. Biasanya Bameti hanya dilakukan masyarakat Papua untuk memenuhi kehidupan sehari-hari, atau dalam artian bukan mata pencaharian utama seperti nelayan yang keseluruhan hidupnya tergantung pada hasil laut. Bameti lebih pada aktivitas bersama keluarga di waktu luang, serta waktu berkumpul masyarakat kampung di lokasi yang sama. Terkadang, Bameti dilakukan masyarakat Papua untuk bersantai bersama keluarga besar dalam Marga yang sama, dimana hasil tangkapan akan dimasak, serta dikonsumsi di pinggir pantai.

Bameti 1

Alat Tangkap Kalawai

 

Kearifan Lokal dalam Pemanfaatan Sumberdaya Ikan

Kesadaran masyarakat untuk hidup selaras dengan alam sebenarnya sudah biasa dipraktekkan dari leluhur mereka. Perikanan non komersial atau perikanan subsisten merupakan wujud pengaturan dan perlindungan nyata prilaku hidup mereka. Bameti dan Balobe adalah tradisi yang mencerminkan prilaku ramah lingkungan sebagai bentuk budaya masyarakat pesisir Papua. Tidak banyak hasil tangkapan dari kedua metode ini, karena hanya dipakai untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga masyarakat adat suku-suku di Kaimana.

Bameti dan Balobe adalah prilaku konservasionis  produk tempo dahulu, yang rmerupakan perwujudan kearifan lokal. Potret pengetahuan budaya (cultural knowledge) dalam kehidupan sehari-hari massyarakat pesisir Papua dalam pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya alam ini, nyatanya berdampak sangat signifikan terhadap ketersediaan pangan. Cultural knowledge dipergunakan dalam memahami lingkungan, serta mendorong terbentuknya prilaku budaya yang selaras, seimbang, bersinergi dengan alam.

Dalam Bameti dan Balobe, berlaku aturan tidak tertulis berupa ambil “manfaatkan” seperlunya dan secukupnya saja. Tindakan ini memastikan ketersediaan sumberdaya berkelanjutan bagi generasi penerus. Praktek Bameti dan Balobe merupakan bukti bagaimana masyarakat lokal memanfaatkan sumberdaya mereka dengan peralatan sederhana bahkan tradisional. Sehingga dapat dikatakan contoh pemanfaatan secara arif dan bijaksana yang tercermin dalam budaya kearifan lokal dalam sumberdaya ikan di Kaimana.

Foto 2

Teripang, Hasil Tangkapan Balobe dan Bameti

11539074_10200578912790765_8685446916955644172_o

Kerang-kerangan, hasil dari Bameti

 

Pariwisata berbasiskan Kearifan Lokal Masyarakat Pesisir

Sektor pariwisata masih dalam  proses perkembangan di Kabupaten pemekaran tahun 2003 ini. Hal ini dapat dilihat dari pembenahan yang menunjang kenyaman wisatawan, seperti hotel, dan transportasi. Kaimana yang terletak di Selatan Pulau Papua, yang berhadapan langsung dengan Laut Aru ini, belum begitu banyak dikunjungi wisatawan. Tentu saja, transportasi yang cukup mahal menjadi salah satu alasannya. Untuk menuju Kaimana, penerbangan menggunakan pesawat ATR milik maskapai Wings merupakan satu-satunya yang mendarat untuk melayani jalur lintas Papua dan Maluku. Sisanya, hanya terdapat kapal Pelni yang berlabuh setiap dua minggu sekali.

Dalam kurun waktu lima tahun, sebahagian besar wisatawan yang berkunjung berasal dari luar negeri. Tujuan mereka lebih menfokuskan diri pada wisata menyelam di Teluk Triton, Selat Iris, dan Selat Bicari. Maklum saja, ketiga lokasi tersebut, terkenal dengan keindahan alam bawah airnya yang menakjubkan sehingga para peneliti kelautan dunia menjulukinnya sebagai “Kingdom of Fishes”.

Wajah pariwisata Kaimana perlahan-lahan berubah dalam kurun waktu dua tahun terakhir. Awalnya menggantungkan diri dari sektor keindahan alam bawah air, perlahan bangkit menunjukan jati diri masyarakat adat melalui budaya, salah satunya adalah atraksi kearifan lokal. Wisatawan asing yang tertarik akan budaya masyarakat pesisir Papua, berkeinginan masuk dan mempelajari bagaimana masyarakat lokal memanfaatkan sumberdaya alamnya. Dalam perjalanan ke Teluk Triton, saya bertemu dengan Mark (45 tahun) wisatawan yang berasal dari Inggris. Menurut Mark, aktivitas masyarakat pesisir Papua sangat menarik. Cara masyarakat lokal menghormatin dan menghargai alam itu sangat luar biasa. Mark yang berprofesi sebagai Konsultant Energi ini menambahkan, begitu tertarik untuk membaur dengan mama-mama Papua Bameti di sepanjang bibir pantai, yang kemudian mengolah hasil untuk dimakan bersama. Merasakan atmosfir lokal itu sesuatu yang beliau tidak bayangkan sebelumnya. “Ini merupakan tradisi masa lampau yang masih dipertahankan” ujar beliau menutup perbincangan kami sore ini.

Lain lagi dengan Jeny (30 tahun), wisatawan yang berasal dari Amerika tersebut begitu antusias ketika diajak untuk Balobe. “Saya sangat penasaran untuk melihat masyarakat lokal menangkap ikan di malam hari”, kata wanita yang berasal dari  Florida ini. Saya bertemu Jeny di pasar tradisional Kaimana, ketika ia berbincang dengan warga Kampung Wamesa. Kemudian, perbincangan kami berlanjut mengenai budaya masyarakat pesisir Kaimana dalam memanfaatkan sumberdaya alam, yang diakhiri ajakan dari Ledrik Sawy untuk berkunjung, serta ikut serta dengan beliau Balobe.

Menurut Jeny, turut serta Balobe bersama masyarakat lokal menjadi destinasi wisata unik. Belajar bagaimana masyarakat memperlakukan laut dengan tetap memperhatikan keberlanjutannya, sangat sarat dengan nilai-nilai konservasi yang banyak digaungkan konservasionis saat sekarang ini. Tidak semua orang dapat merasakan dan melihat bagaimana masyarakat lokal memperlakukan alam dengan bijaksana. Dengan adanya keterlibatan wisatawan dalam budaya kearifan lokal, tentu memberikan pandangan baru, bahkan ide-ide segar buat pengunjungnya dalam menghargai alam. Ini bukan tentang bagaimana cara pandang luar untuk melihat lebih dalam budaya masyarakat pesisir, namun lebih kepada bagaimana kita menyadari kita membutuhkan alam untuk hidup dan berkembang. Menutup perjalanan saya di awal tahun 2016 di Selatan Pulau Papua, saya menyadari bahwa “Manusia menjaga, alampun memberi”.

Venu Island, home of the “Ambassador” of Kaimana’s Seas

Seekor induk Penyu Lekang menutup sarang setelah mengeluarkan hampir130 butir telur di Pulau Venu copy

Seekor induk Penyu Lekang menutup sarang setelah mengeluarkan hampir130 butir telur di Pulau Venu

Nesting beach protection

The waves hit the shore, accompanied by strong winds sweeping the small white sand island, only about ​​three football fields in size, southwest of Kaimana, Triton Bay’s gateway city. The village community has named this place Venu Island. Venu means “eggs” in the local Koiway language, and the name represents the eggs laid by hundreds of turtles that nest along the island’s sandy beach. To reach Venu from Kaimana requires a two to three hour journey in a speedboat. Shaped like a bracelet, with a saltwater pool in the middle, Venu is home to many exotic bird species, but the main attraction for conservationists and tourists is turtles.

Venu Island is relatively flat, only about 7 meters above sea level at its highest point, so its entire perimeter and even the inner island are ideal locations for turtles to nest and lay eggs. Three main species of sea turtles nest on Venu: green turtles (Chelonia mydas), hawksbills (Eretmochelys imbricate) and olive or pacific ridleys (Lepidochelys olivacea).

Conservation International (CI) in collaboration with the Center KSDA West Papua, through the Region IV Section KSDA Kaimana, and local indigenous communities conduct monitoring activities on Venu Island. CI initiated the formation of patrol teams to protect against threats, both natural (abrasion, predators) and non-natural (human). Patrol teams will take action against the violators who perform acts that threaten the survival of sea turtles. Data collection activities, team building supervision along with turtle nesting area patrols began in February 2011.

Monitoring and documentation includes determination of which species are nesting, the time (date and hour) of nest building, the predominant location of nests, the size of the nesting turtles, and frequency and the number of eggs produced. Monitoring is preformed every evening at 19.00 and lasts until 23.00.

 

Tete Irisa, Keeping Turtles from Extinction

As usual, every night Irisa Sawoka (60 years old) patrols the island to detect traces of turtles that have climbed to the beach to lay their eggs. Assisted by Yohan (40 years old), CI’s staff monitors the beaches trying to use as little artificial light as possible in order not to disturb the nesting turtles. Tete Irisa pioneered nest protection on Venu Island. Despite the fact that he had experience with protecting turtles, his enthusiasm for the project was not dampened. “Eran Jelepi (green turtles) come up most frequently and lay eggs in any season,” he said while digging a hole to move the turtle eggs to a secure location in front of the checkpoint. Other species are seen in October, a prime nest-building month.

At night, after the turtles are identified, the nests are numbered. The goal is to determine the number of turtles that nest and lay eggs on Venu’s beaches. In the morning, the men, armed with a large bucket, transfer eggs from the nests to a protected area. According to Tete Irisa, removing the eggs prevents predators from opening the nests and increases the likelihood of the hatchlings’ survival. Care is taken to move the eggs swiftly in order not to harm the embryos.

Turtle eggs will hatch and the baby turtles will return to the sea in about 30 to 40 days. “Watching the eggs hatch is a unique experience,” said the Kaimana native. Hatchlings know instinctively not to go down to the beach when it is still light. They often peek from the nest but wait for nightfall to scamper to the ocean. We release our hatchlings around 19:00 to avoid the brunt of predators on land and in the ocean. Just imagine, an average nest produces 180 to 200 eggs, but perhaps only two survive to return to Venu and lay their own eggs! Another good reason for protecting this island and the turtles that come here.”

 

Tukik memulai pengembaraannya di lautan

Tukik, memulai pengembaraannya di lautan

 

Turtles, Their history and Future

Because of the lack of protected turtle nesting beaches, many nesting areas in Indonesia have been exploited to the point where no turtles return to lay eggs. Looting eggs from nests and hunting turtles for their meat has decimated both Indonesia’s and the world’s sea turtle population. According Tete Irisa, the main looters around Venu did not come from Kaimana or its surroundings, but arrived from distant islands where the turtles already had been wiped out.

Around Kaimana, the numbers of turtles nesting on Venu and other islands nearby begin to shrink. Protection has not been easy. Limited means and knowledge about conservation methods are major obstacles. Initiatives between CI and BKSDA to protect turtle nesting beaches now have the support of the local communities and landowners. Based on CI’s data from 2011 through 2013, turtle nestings have increased to about 2,477 individuals. This positive result is due to the cooperation between all stakeholders who are striving to save Kaimana’s ambassador of the seas.

http://birdsheadseascape.com/conservation-science/venu-island-home-of-the-ambassador-of-kaimanas-seas-by-nita-johana/

Local Wisdom for Conservation

 

Kaimana, which is located in the southern region of  bird's head, West Papua. Dealing directly with the Arafura Sea, which has a high biodiversity

Kaimana, which is located in the southern region of bird’s head, West Papua. Dealing directly with the Arafura Sea, which has a high biodiversity

 

Local Wisdom

Customs and traditions attached to the life of the Indonesian nation. The cultural approach through local knowledge is an attempt to involve the local community, especially in the conservation and preservation of natural resources. Based on this, the zoning system built in Kaimana based indigenous peoples.

In the arrangement or division, Zoning system of conservation areas in Kaimana, following the Customs and traditions in the community.

Indigenous is a recognized custom, which obeyed and institutionalized , and maintained by the local indigenous people for generations.   While local knowledge is the great value that still exists in the system of people’s lives.

Kaimana- the first Region who use conservation areas based  Indigenous community, which aims to maintain the culture in order to live in harmony with nature, and respect for tradition in the territorial waters of Kaimana.

 

 

community- understand to keep the ocean waters

community- understand to keep the ocean waters

 

Sasi

“Sasi and conservation  have the same meaning”.

Kaimana community has long been applying local knowledge in the use of marine resources, such as Sasi and Sasi Nggama Meti.  Actually, conservation also almost the same like  Sasi, which in its application conservation areas divide the area / zone waters by function and purpose. While Sasi, limiting space and time, as well as the resources utilized.

Conservation  not come to prohibit exploit marine resources such as prohibiting fishing. But, arranged for each region / zone can be put to good use for the purpose of survival of the community.

If in local knowledge, closing an area that should not be exploited known as Sasi Permanent, whereas in Conservation areas known as the  Savings Fish Areas or Food Security.

So, Sasi and Conservation areas  it is the SAME meaning,  just different name . The point is to make arrangements marine areas.

 

 

 

Seka dance from the south of the Papua Island

Ragam budaya mewarnai Pulau terbesar kedua di  Dunia, Papua. Terletak di paling Timur Indonesia-menyimpan kekayaan adat dan budaya esotik memukau. Salah satunya terpancar dari seni tari-tarian. Di dalam kehidupan manusia, tari tidak dapat dipisahkan dengan aktivitas keseharian. Tari melambangkan identitas masyarakat itu sendiri.

Seka dance from Napiti tribe in kaimana

Seka dance from Napiti tribe in kaimana

 

Tari Seka-merupakan salah satu tarian adat masyarakat di Selatan Papua, yang meliputi wilayah Timika, Kaimana dan Fakfak. Tarian yang melambangkan ucapan rasa syukur kepada Sang Pencipta ini hadir mewarnai kehidupan masyarakat pesisir. Pada awalnya, tarian ini dilakukan sebagai ucapan syukur di kala hasil panen melimpah serta prosesi adat pernikahan, yaitu menghantarkan gadis ke calon mempelai laki-laki. Namun, seiring waktu berjalan, tarian ini juga melukis tanah papua sebagai tari pergaulan dan penyambutan tamu.

Di Kaimana, suku Napiti dan Suku Miere masih menggunakan tari Seka dalam denyut aktivitas sehari-hari. Sama halnya seperti di  Timika, Suku Komoro  menghidupkan irama budaya melalui tarian ini. Namun, di Suku Komoro tari Seka juga melambangkan semangat ketika akan  berperang, pada waktu lampau.

Selain Tari Seka, masih banyak terdapat tarian lainnya membingkai makna adat istiadat seperti tari perang, tari tokok sagu, tari melaut dan sebagainya. Budaya tarian yang mengakar dalam sendi kehidupan ini, hidup dengan ruangnya sendiri membentuk keragaman.

Seka dance from Napiti Tribe

Seka dance from Napiti Tribe

 

 

 

Sisi lain berlabuhnya Kapal Tidar di Kaimana

 

Foto 2

Aktivitas perahu bermesin tempel hilir mudik berjejalan disamping kapal berpenumpang total 1904 orang ini, tak kala kapal buatan Jerman  buang sauh di 1 km dari pelabuhan Kaimana.

Tidar, nama kapal Pelni ini. Menempuh perjalanan dari Ibukota Jakarta menuju Kaimana, dengan menyinggahi beberapa kota kecil di Indonesia Timur. Di Kaimana, si Kapal buatan Jerman tahun 1987  ini tidak bisa bersandar, maklum saja kabupaten yang masih bersolek setelah berpisah dari Kab.FakFak di tahun 2002 belum memiliki pelabuhan untuk disandarin kapal-kapal besar.

Namun begitu, kesempatan ini dimanfaatkan masyarakat untuk mengais rezeki dengan menawarkan jasa perahu tempel. Sebenarnya, Pemda Kaimana sudah menyediakan sebuah kapal penjemput. Hanya saja, kondisi penuh sesak dijadikan alasan beberapa penumpang lebih memilih perahu tempel sebagai transportasi penyambung.

Sebagai Kabupaten yang baru mekar, tentu saja pembangunan terlihat wara-wiri di segala sektor, Tidak ketinggalan berbenah diri untuk Pelabuhan. Kenyataannya, jika pelabuhan rampung dan dapat disandarin kapal-kapal besar, maka masyarakat yang berprofesi sebagai penjemput di perahu motor tempel akan kehilangan mata pencaharian. Tentu saja ini cukup menjadi perhatian. Di satu sisi, pembangunan hal mutlak dilakukan di daerah yang sedang mekar dan berkembang, di sisi lain himpitan kehidupan menjepit masyarakat di daerah itu sendiri

Meeka Umitou Culture, West Papua, Indonesia

Mee tribal demonstrate Meeka Umitou culture on Kaimana Twilight Festival, in Kaimana, West Papua. Mee tribe is one of the tribes that occupy Kaimana Regency. This tribe live in the mountains.

Men of the tribe MEE, demonstrated a war dance

Men of the tribe MEE, demonstrated a war dance

 

Pembuatan Sagu di Kampung Lobo, Teluk Triton, Kaimana, Papua Barat

Udara untuk kehidupan, sagu untuk persaudaraan. Begitu melekatnya makanan tradisional ini di kehidupan masyarakat Papua.  Sebut saja Papeda-makanan berbahan dasar sagu, menjadi simbol budaya Papua Pesisir.

Sagu- terbuat dari endapan sari pohon sagu, yang diproses secara tradisional. Proses pembuatannya pun masih sederhana. Pohon sagu terpilih ditebang, dengan sebelumnya dibersihkan dari duri serta dahannya. Dilanjutan pengambilan serat serta peramasan.

Tumbuhan  pesisir ini terbagi menjadi dua berdasarkan lokasi hidupnya, yaitu sagu di rawa dan sagu di daratan. Sagu merah  dihasilkan oleh pohon yang mendiami daerah rawa, sedangkan sagu putih untuk  yang hidup di daratan. Karakteristik biologisnya juga terbagi atas sagu berduri dan tidak berduri. Namun demikian, tidak ada perbedaan rasa untuk hal ini. Sagu tetap dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat Papua Pesisir.

Mawas Wanoman

Tokok Sagu atau biasa disebut dengan Mawas Wanoman oleh suku Maerasi, dimulai dengan menyiapkan Oere (alat penokok sagu). Oere terbuat dari pohon sagu itu sendiri, yang dibentuk seperti palu. Fungsinya, untuk memukul batang sagu hingga serat-serat halusnya terpisah. Serat itulah yang akan menghasilkan sagu. Menurut Bapak Yustus Wejanggae (39 tahun), waktu mawas wanoman tergantung dari jumlah pekerja. Untuk satu pohon, bisa dikerjakan dalam waktu tiga sampai tujuh hari.  Jika dikerjakan  banyak orang, batang sagu dibelah menjadi dua (antero) namun jika dikerjakan sendiri batang akan dibagi menjadi 3 bagian.

Tokok sagu ini dikerjakan langsung di lokasi penebangan. Pembuatan para-para (tempat duduk) menggunakan bahan yang tersedia di alam. Bunyi Oere bertalu-talu menghasilkan serat-serat halus yang siap diramas.

Mawas Wanoman

Mawas Wanoman

Mawas Fuseman

Ramas sagu atau mawas fuseman-proses pemerasan serat menjadi pati sagu. Di suku Maerasi, Teluk Triton, terdapat beberapa tempat yang biasanya digunakan untuk lokasi pengambilan pohon sagu. Salah satunya di Wawena kampung Lobo. Lokasi ini sangat dekat dengan pantai atau artinya sagu yang dihasilkan akan berwarna merah. Begitu juga dengan peralatan yang digunakan, masih tercium aroma pantainya. Mawas ambir (pelepah sagu) digunakan sebagai wadah mawas fuseman. Dengan ditopang dua bilah kayu diameter 5 cm di belakang, serta diselonjorkan kearah depan mengerucut ke wadah penampungan yang ditopang tiga bilah kayu. Tak lupa, ujungnya ditutup oleh jarring halus sebagai jembatan bulir-bulir pati. Ada juga Kole-kole (sampan yang terbuat dari satu buah pohon utuh) berfungsi sebagai  wadah penampung air perasan serat sagu  yang mengandung pati. Terdapat juga jaring halus, tomang (wadah yang terbuat dari daun sagu), ember besar, gayung serta pelangkapnya yaitu air tawar.

Mawas fuseman dimulai dengan membasahi serat halus sagu sambil diremas-remas menggunakan tangan. Proses ini dilakukan secara berulang-ulang, sampai pati keluar dan tergerus. Aliran pati bermuara dan mengendap di dasar kole-kole membentuk sagu siap digunakan. “ Tidak ada tanda dan waktu khusus memeras sagu, semua berdasarkan pengalaman saja”, ujar Yakomina sambil tersenyum. Beliau juga menambahkan, dalam satu hari bisa terisi dua buah tomang. Sedangkan, satu pohon dapat  menghasilkan delapan sampai duabelas tomang. Satu tomang sagu dihargai Rp 150.000 sampai Rp. 200.000.

Sagu akan bertahan tiga bulan didalam tomang. Untuk pengawetannya cukup dengan merendam pati sagu didalam air tiap satu bulan sekali.

Mawas Fuseman is squeezing activity sago fibers to produce sago starch

Mawas Fuseman is squeezing activity sago fibers to produce sago starch

Sagu

Tumbuhan pesisir ini bernama latin Metroxylon sagu. Sagu merupakan makanan pokok bagi masyarakat di Papua dan Maluku. Tanaman sagu tumbuh secara alami terutama di daerah dataran atau rawa dengan sumber air yang melimpah. Hampir 50 % tanaman sagu dunia terdapat di Indonesia, dengan 90% jumlah tersebut tersebar di Papua dan Maluku.

Di daerah  di Indonesia Timur, masyarakat  mengonsumsi sagu dalam makanan sehari-hari. Misalnya saja, Ambon terkenal dengan sinole atau bubur sagu dari Maluku yang berbahan dasar sama. Keunikan corak budaya kuliner Indonesia memiliki persamaan dengan perbedaan warna.

Di Kaimana, Papua Barat-pembuatan sagu banyak ditemui di kampung-kampung Distrik. Itupun jumlahnya semakin berkurang. Gempuran pembangunan mendesak bibir pantai bersahabat dengan tembok-tembok. Pemukiman penduduk juga ikut merambah habitat pohon sejuta manfaat ini. Kearifan lokal lah, yang  menyelamatkan kelestarian  kuliner daerah yang tertanan di kehidupan budaya Mawas Wanoman ini.